Denny Cholid Rachmat Awan Semoga
bermafaat bagi saya pribadi dan saudara2ku, sabahat2ku, sebagai
pengetahuan yang perlu juga dikoreksi oleh saudara2ku di grup Haiku oleh
:
Kang Kang Soni Farid Maulana, Kang Diro Aritonang, Kang Yesmil Anwar, Kang Yusef Muldiyana, Kang Igun Prabu, Kang Hikmat Gumelar, Bang Arsyad Indradi, Kang Beni Setia,
dan kawan-kawan yang tidak saya sebut semua disini, bilamana ada
kekurangan2 mohon dimaafkan tulisan saya ini hanya sebagai refresh saja,
dan saya bersyukur semoga dengan kehadiran Kang Lutfi Mardiansyah
disini sangat penting buat kita di Haiku bukan sekedar busa dan gincu.
Sedikit pengetahuan bagi saya tentang "HAKIKAT KRITIK" semoga
kawan-kawan bisa menambahkan dan koreksi : Kritik berasal dari bahasa
Yunani, yaitu “Krinein” yang artinya memisahkan, merinci. Dari bidikan
yang dihadapi dengan kenyataannya orang membuat suatu pemisahan,
perincian antara nilai dan yang bukan nilai, yang baik dan yang jelek,
namun bukan hanya arti susila saja, perlu landasan-landasan untuk
menyoroti dalam arti yang sangat luas terhadap menentukan suatu ukuran
nilai, yaitu nilai dalam penafsiran, nilai dengan ilmu, kaidah-kaidah
atau norma yang menjadi pedoman secara sistematis. Persoalan kritik
mempunyai kedudukan yang sangat penting pada kehidupan sosial manusia,
karena kritik adalah sebagaimana orang memberikan penilaian atas nilai.
Dalam tata kehidupan demokrasi masyarakat, kritik sangat dibutuhkan
untuk menilai tentang kebijaksanaan para pemimpin dan para penguasa
secara kritis. Seperti terjadi dalam suatu pemilihan umum, yaitu sebagai
contoh pemilihan kepemimpinan melalui partai-partainya. Kritik
menyoroti wilayah-wilayah tertentu dari suatu praktek kemanusiaan dalam
sosialisasinya. Tanpa kritik belum tentu suatu cita-cita sesuai hasil
dengan pencapaian harapannya.
Kritik dilontarkan dengan positif ataupun negatif bagai cambuk
seakan-akan menjadi penghambat atau ancaman yang dianggap pengrusakan
citra pada para pembuatnya, pada sistem struktural sebuah organisasi
atau perseorangan dari sebuah nilai kesucian dan kemurnian hasil karya.
Bisa juga kritik menjadi doping atau stimulus untuk mencapai harapan
masa depan lebih baik dari yang sudah-sudah. Seorang kritikus sudah
tentu harus mengerti hakekat kritik, sifat-sifat kritik dan persyaratan
bagaimana melakukan kritik. Kendati demikian bukan tugas yang mudah
ketika kritik itu harus diutarakan dan bahwa kritik yang benar adalah
suatu nilai dasar untuk kemajuan eksistensi perbuatan kemanusiaan.
Menjadi seorang kritikus berkualitas mempunyai disiplin ilmu untuk
mempelajari dan memahami bagaimana menyoroti dan melontarkan
kritik-kritiknya supaya tepat sasaran terhadap yang dinilainya atas
perbuatan-perbuatan yang bisa ditangkap dan tidak bisa ditangkap oleh
pancaindera, seperti yang dilakukan seorang filsuf, agamawan dan
masyarakat religius secara spirituil berfikir tentang ketuhanan.
Bagaimana kita mengkritisi terhadap seorang hakim menvonis perbuatan
seorang terdakwa, pemimpin negara mengatur rakyatnya, seorang seniman
bagaimana ia menghasikan karya seni yang diciptakannya. Demikian
macam-macam kritik diarahkan bukan serta merta seorang kritikus menjadi
dewa terkesan lontaran caci-maki, opini, bisikan-bisikan, gunjingan
sebagai kutukan yang gerah, akan tetapi menjadikan spirit dan titik
terang mendorong lebih maju untuk melahirkan formula-formula baru dan
inovasi pada kemajuan bangsa dan negara, serta satu contoh pada karya
seni lebih bermutu sekaligus eksistensi para senimannya.
No comments:
Post a Comment