Kumpulan Haiku Henda Surwenda Atmadja
·
cahya
mentari
membias keresahan
memucat pasi
membias keresahan
memucat pasi
perjalananmu
dipenuhi angin syurga
nutupi hati
dipenuhi angin syurga
nutupi hati
dengan
bersedih
susuri kenangannya
cinta yang hilang
susuri kenangannya
cinta yang hilang
tangis
kemarin
memungut rindu lama
sekarang senyum
memungut rindu lama
sekarang senyum
merenung
diri
umur kian berkurang
ingat yang lalu
umur kian berkurang
ingat yang lalu
pergimu
lama
melupakan kecewa
namun sadarlah
melupakan kecewa
namun sadarlah
·
di
waktu esok
gemuruh kasih terbit
met hari ibu
gemuruh kasih terbit
met hari ibu
·
biarkan
kering
luka mu pasti hilang
seiring waktu
luka mu pasti hilang
seiring waktu
tak
perlu marah
menyesal juga jangan
biar berlalu
menyesal juga jangan
biar berlalu
mandi
di pagi
basahi tubuh lama
meraba diri
basahi tubuh lama
meraba diri
cinta yang
gelap
matahari dan bulan
jadi gerhana
matahari dan bulan
jadi gerhana
dibalik
awan
matahari dan bulan
sedang bercinta
matahari dan bulan
sedang bercinta
bintang
mengintip
matahari dan bulan
bercinta alam
matahari dan bulan
bercinta alam
malam
pun datang
matahari merebah
tiduri bulan
matahari merebah
tiduri bulan
fajar
menghilang
seiring datang siang
menjemput sore
seiring datang siang
menjemput sore
meresap
kalbu
ucap kata bak bunga
nasehat ibu
ucap kata bak bunga
nasehat ibu
tutur
yang syahdu
dikala rasa gundah
doanya ibu
dikala rasa gundah
doanya ibu
sosok
periang
liuk tubuh yang indah
punya suami
liuk tubuh yang indah
punya suami
sekilas
nampak
melambai lempar senyum
getir tersimpan
melambai lempar senyum
getir tersimpan
hanya
gambarnya
memberikan bayangan
gelap nun jauh
memberikan bayangan
gelap nun jauh
kejar
berlomba
antarkan hawa nafsu
angin didapat
antarkan hawa nafsu
angin didapat
lempar
harapan
mengikuti kehendak
nyata adanya
mengikuti kehendak
nyata adanya
berpegang
siang
jalan dikehidupan
tak sampai jua
jalan dikehidupan
tak sampai jua
tiduri
waktu
mengingat jejak lalu
catatan kelam
mengingat jejak lalu
catatan kelam
wangi
melayang
merpati ikut awan
tinggalkan sedih
merpati ikut awan
tinggalkan sedih
otak
merusak
tampilan badan bandit
beban negara
tampilan badan bandit
beban negara
jenuh
menunggu
melati dekap sepi
janji tak tepat
melati dekap sepi
janji tak tepat
dimalam
kelam
hati terkena hujam
kasih berpaling
hati terkena hujam
kasih berpaling
sastrawan
kumpul
hati bosan bersajak
tak mau nulis
hati bosan bersajak
tak mau nulis
pujangga
besar
banyak bersabar koar
menolak barbar
banyak bersabar koar
menolak barbar
pujangga
lesu
syairnya tidak didengar
tokohnya tuli
syairnya tidak didengar
tokohnya tuli
suara
parau
penyair tua marah
kalian bohong !
penyair tua marah
kalian bohong !
gada
dan godam
simpan dibara dendam
pengadilanmu
simpan dibara dendam
pengadilanmu
biang
masalah
mereka yang serakah
dipemerintah
mereka yang serakah
dipemerintah
dendam
tlah tiba
harus diusir dalam
otak dan hati
harus diusir dalam
otak dan hati
mengenang
kamu
sejuta dusta lintas
dalam benakku
sejuta dusta lintas
dalam benakku
mentari
senja
coba lepas ingatan
dia penipu
coba lepas ingatan
dia penipu
harus
melawan
apabila pribumi
dijajah lagi
apabila pribumi
dijajah lagi
kobarkan
lagi
semangat perjuangan
tuk anak cucu
semangat perjuangan
tuk anak cucu
perjalananmu
catatan patriotik
sosok pejuang
catatan patriotik
sosok pejuang
burung
garuda
tidak akan menjadi
seekor nuri
tidak akan menjadi
seekor nuri
seekor
nuri
tidak akan seperti
burung garuda
tidak akan seperti
burung garuda
siang
dan malam
pikir uang dan harta
sebuas macan
pikir uang dan harta
sebuas macan
sosok
pengabdi
digempur kasih palsu
jadi bayaran
digempur kasih palsu
jadi bayaran
dipasang
tarif
berkejaran setoran
penuh berdagang
berkejaran setoran
penuh berdagang
lautan
ilmu
biasa ngalir benar
sekarang nanar
biasa ngalir benar
sekarang nanar
orang
disana
yang kerja dan yang bunyi
boneka juga
yang kerja dan yang bunyi
boneka juga
tidak
gemuruh
bahkan tertidur panjang
lantangnya hilang
bahkan tertidur panjang
lantangnya hilang
berdiri
kamu
pada posisi kamu
supaya jelas
pada posisi kamu
supaya jelas
berdebat
bisu
digedung buku ilmu
pingsan melulu
digedung buku ilmu
pingsan melulu
bongkar
hatimu
yang slalu terpenjara
dalam dustanya
yang slalu terpenjara
dalam dustanya
lupakan
nilai
mengejar tarif harga
materialis
mengejar tarif harga
materialis
kalimat
sayat
tidak bisa diingat
rakyatnya mabuk
tidak bisa diingat
rakyatnya mabuk
banyakan
mimpi
pikiran terbang tinggi
tidak membumi
pikiran terbang tinggi
tidak membumi
kegenitanmu
tidak mampu merubah
keadaanmu
tidak mampu merubah
keadaanmu
kalimat
sedap
asyik ngalir merapat
tipuan dahsyat
asyik ngalir merapat
tipuan dahsyat
kau
yang tak jelas
pergi kesana sini
ikuti angin
pergi kesana sini
ikuti angin
kalimat
sayap
adu merdu dirakyat
tipuan lalu
adu merdu dirakyat
tipuan lalu
saling
menyerang
adu kata bicara
kalimat nipu
adu kata bicara
kalimat nipu
berlomba
dusta
tembok berbintang langit
politik kini
tembok berbintang langit
politik kini
siang
yang panas
dikota baru kusut
berhambur peluh
dikota baru kusut
berhambur peluh
dicafe
cafe
dosen dan mahasiswa
berdusta ria
dosen dan mahasiswa
berdusta ria
dicafe
cafe
mahasiswa diskusi
rakyat kelaparan
mahasiswa diskusi
rakyat kelaparan
cafe
dan cafe
memenuhi pikiran
pemuda nongkrong
memenuhi pikiran
pemuda nongkrong
dosen
usaha
mahasiswa dicafe
negara bangkrut
mahasiswa dicafe
negara bangkrut
papi
dan mami
anak bangga di cafe
terbawa angin
anak bangga di cafe
terbawa angin
papi
dan mami
anak bangga di cafe
nilainya kabur
anak bangga di cafe
nilainya kabur
ditiap
tempat
cafe dan kaum muda
sejarah mati
cafe dan kaum muda
sejarah mati
ditiap
tempat
cafe dan kaum muda
saling bodohi
cafe dan kaum muda
saling bodohi
ditiap
tempat
cafe dan kaum muda
saling memberi
cafe dan kaum muda
saling memberi
ditiap
tempat
cafe dan kaum muda
kadang semarak
cafe dan kaum muda
kadang semarak
ditiap
tempat
cafe tak pernah kosong
membuang waktu
cafe tak pernah kosong
membuang waktu
kutengok
kampus
mahasiswa tertidur
dosen berbisnis
mahasiswa tertidur
dosen berbisnis
memang
kualat
asli tak hebat kuat
semua impor
asli tak hebat kuat
semua impor
canda
negeri
siapa yang memimpin
siapa yang memimpin
mendekap
mulut
sendiri tak bicara
biarkan kerja
sendiri tak bicara
biarkan kerja
tenangkan
jiwa
kebijakan pro rakyat
berikan jalan
kebijakan pro rakyat
berikan jalan
tergulung
ombak
wanita itu dilaut
sesali diri
wanita itu dilaut
sesali diri
jauh
disana
kau tak peduli lagi
biar sepiku
kau tak peduli lagi
biar sepiku
cucur
keringat
basahi tubuh lesu
kejamnya kerja
basahi tubuh lesu
kejamnya kerja
biduk
melaut
diatasnya camar terbang
tersapu angin
diatasnya camar terbang
tersapu angin
dilaut
lepas
perahu tanpa dayung
diayun ombak
perahu tanpa dayung
diayun ombak
dilaut
lepas
perahu tanpa biduk
diayun ombak
perahu tanpa biduk
diayun ombak
lentera
kata
berlayar ombak harap
menepi karang
berlayar ombak harap
menepi karang
berkali
kerja
ingin raih yang baik
nasib tak tentu
ingin raih yang baik
nasib tak tentu
lelah
gak habis
kejar hidup tiada
kunjung sempurna
kejar hidup tiada
kunjung sempurna
sejuta
sastra
bertebar di istana
hanya hiasan
bertebar di istana
hanya hiasan
kantin
sekolah
redup disudut sepi
terganti cafe
redup disudut sepi
terganti cafe
berbaur
ilmu
berbaur berkreasi
berkompetisi
berbaur berkreasi
berkompetisi
kaum
marjinal
pasif berdiam diri
perlahan mati
pasif berdiam diri
perlahan mati
bekalnya
dusta
gagas berdaya bangsa
rugi negara
gagas berdaya bangsa
rugi negara
merinding
ngeri
tanah air digali
mereka beli
tanah air digali
mereka beli
mereka
sadis
semua babat habis
kita yang bodoh
semua babat habis
kita yang bodoh
muslihat
apa
dongeng mereka juga
kita hampasnya
dongeng mereka juga
kita hampasnya
pemuda
cafe
mahasiswa di cafe
mikirnya cafe
mahasiswa di cafe
mikirnya cafe
pujangga
kere
sastranya tak dipake
sejarah bangke
sastranya tak dipake
sejarah bangke
pusat
pikiran
bergedung juta buku
obrolan cafe
bergedung juta buku
obrolan cafe
siapkan
diri
besok turun kejalan
berdemontrasi
besok turun kejalan
berdemontrasi
kampus
sekarang
dihuni putra putri
mami dan papi
dihuni putra putri
mami dan papi
belajar
baca
dicafe cafe kota
berkawan wifi
dicafe cafe kota
berkawan wifi
suara
lantang
tak ada lagi bunyi
beberkan jerit
tak ada lagi bunyi
beberkan jerit
study kini
tampilkan laptop baru
pameran gaya
tampilkan laptop baru
pameran gaya
siapkan
diri
besok kita kejalan
berdemontrasi
besok kita kejalan
berdemontrasi
tarik
kembali
ketika kata putus
terlontar lirih
ketika kata putus
terlontar lirih
kamu
dimana
ku sedang kelelahan
tolong hampiri
ku sedang kelelahan
tolong hampiri
silang
sengketa
bibir, lidah, dan kata
mencari makna
bibir, lidah, dan kata
mencari makna
dikampus
itu
anak mama dan papa
berpesta pora
anak mama dan papa
berpesta pora
meminum
kopi
dicafe cafe kota
bercanda ria
dicafe cafe kota
bercanda ria
dikampus
itu
mahasiswanya lupa
dunia nyata
mahasiswanya lupa
dunia nyata
gelisah
kita
bila jadi pemimpin
bermulut palsu
bila jadi pemimpin
bermulut palsu
menaruh
harap
pada elit kuasa
esok merdeka
pada elit kuasa
esok merdeka
apa
dikata...
kaum
terdidik
mabuk tertidur lelap
ilmunya terbang
mabuk tertidur lelap
ilmunya terbang
menara
gading
dulu banyak disinggung
karena asing
dulu banyak disinggung
karena asing
menara
gading
sekarang banyak minat
yang jadi mesin
sekarang banyak minat
yang jadi mesin
luka
menganga
ditubuh para dosen
kampusnya roboh
ditubuh para dosen
kampusnya roboh
siswanya
lari
kembali jadi anak
mama yang manja
kembali jadi anak
mama yang manja
pujangga
gila
berpantun, ada uang
korupsi ria
berpantun, ada uang
korupsi ria
tiada uang
republik bisa jadi
dijual pula
republik bisa jadi
dijual pula
gurunya
palsu
sekolah libur terus
muridnya gila
sekolah libur terus
muridnya gila
lingkungan
rusak
izin bangun semarak
tanahku retak
izin bangun semarak
tanahku retak
tidak
berani
melawan dan berontak
dijajah lagi
melawan dan berontak
dijajah lagi
bbm
naik
mahasiswa tiarap
rakyat merana
mahasiswa tiarap
rakyat merana
ilmuwan
itu
sangat tekuni ilmu
muridnya bisu
sangat tekuni ilmu
muridnya bisu
sastrawan
itu
menjerit sampai langit
"kertasku hilang......!"
menjerit sampai langit
"kertasku hilang......!"
dikota
baru
semakin banyak gedung
kau jadi babu
semakin banyak gedung
kau jadi babu
dikota
lama
sudah terbangun pabrik
kamu mesinnya
sudah terbangun pabrik
kamu mesinnya
kebun
kakekmu
kini berdiri gedung
seribu angkuh
kini berdiri gedung
seribu angkuh
tuliskan
kata
kita belum merdeka
ladangnya habis
kita belum merdeka
ladangnya habis
pasundan
lesu
tak ada kata maju
tak ada malu
tak ada kata maju
tak ada malu
priangan
diam
padahal kursi terbang
diambil orang
padahal kursi terbang
diambil orang
dalam
puisi
penyair tulis sajak,
"tanah dirampas !"
penyair tulis sajak,
"tanah dirampas !"
bersenda
gurau
ditanah tua sudah
hilang dirampas
ditanah tua sudah
hilang dirampas
imperialis
culas bengis dan sadis
ada di kita
culas bengis dan sadis
ada di kita
tanah
leluhur
banyak insan tergusur
sejarah kabur
banyak insan tergusur
sejarah kabur
kaum
pribumi
jalan dipipir kasir
bangsa terusir
jalan dipipir kasir
bangsa terusir
bandung
yang bingung
tak ada gaung agung
rebah bersarung
tak ada gaung agung
rebah bersarung
jauh
tertinggal
langkah menggapai restu
bandung yang bingung
langkah menggapai restu
bandung yang bingung
bunyi
kepinggir
berbalut pasrah kalah
mengumjpul hitam
berbalut pasrah kalah
mengumjpul hitam
priangan
lelap
tidur panjang tak bunyi
semua diam
tidur panjang tak bunyi
semua diam
pasundan
sendu
banyak ragu melaju
bisu tak maju
banyak ragu melaju
bisu tak maju
pribumi
minggir
tersingkir dan terusir
hidupnya nyinyir
tersingkir dan terusir
hidupnya nyinyir
kalah
bertarung
ditanahnya leluhur
hina menggempur
ditanahnya leluhur
hina menggempur
terusir
kalah
tanah leluhur pindah
pribumi musnah
tanah leluhur pindah
pribumi musnah
hidup
tersudut
bisu dipinggir desa
menyerah kalah
bisu dipinggir desa
menyerah kalah
melangkah
jauh
berteman kepedihan
tinggalkan pahit
berteman kepedihan
tinggalkan pahit
awan
berarak
burung hinggap tak terbang
langit menangis
burung hinggap tak terbang
langit menangis
ayah
melangkah
bunda tetap dirumah
sejahteralah
bunda tetap dirumah
sejahteralah
digenggam
ayah
dituntun bunda jua
hidup dewasa
dituntun bunda jua
hidup dewasa
kamu
cerita
penderitaan panjang
kasih tak pulang
penderitaan panjang
kasih tak pulang
disaat
hujan
ada tangis merintih
rindu pelukan
ada tangis merintih
rindu pelukan
kasihnya
jauh
tiap hari sendiri
merajut sepi
tiap hari sendiri
merajut sepi
puisi
sunyi
ditulis sendirian
penyair tua
ditulis sendirian
penyair tua
sebuah
pantun
dibaca tengah malam
disusul tangis
dibaca tengah malam
disusul tangis
geus
heula ah
isuk teruskeun deui
ayeuna cape
isuk teruskeun deui
ayeuna cape
ka
majalaya
rek neangan mitoha
manawi aya
rek neangan mitoha
manawi aya
dahan
kaboa
loba beja saktina
aya di garut
loba beja saktina
aya di garut
acan
kasorang
hayang nganjang ka anjeun
can aya bekel
hayang nganjang ka anjeun
can aya bekel
wanoja
sunda
panggeulisna sadunya
ngan sok dudunya
panggeulisna sadunya
ngan sok dudunya
kamana
jalan
asa linglung lengkahna
bingung anjeun na
asa linglung lengkahna
bingung anjeun na
nasib
penunggu
bertaut pada waktu
dalam jemputmu
bertaut pada waktu
dalam jemputmu
tertutup
kabut
diseret angin gunung
hatimu beku
diseret angin gunung
hatimu beku
syurganya
hilang
lalu dia terlantar
dijalan pilu
lalu dia terlantar
dijalan pilu
mimpi
menanti
kamu memenuhi janji
malah onani
kamu memenuhi janji
malah onani
dibilang
kapal
padahal bantal kumal
dasar pembual
padahal bantal kumal
dasar pembual
kepastianmu
tak mengubah sikapku
selamat tinggal
tak mengubah sikapku
selamat tinggal
bosan
berharap
keraguan hatimu
baiknya pergi
keraguan hatimu
baiknya pergi
seakan
lupa
disini ada kata
cinta abadi
disini ada kata
cinta abadi
dipadang
rumput
yang hijau nan elok kau
tiup seruling
yang hijau nan elok kau
tiup seruling
malam
merebah
mungkin ada mimpimu
pengganti rindu
mungkin ada mimpimu
pengganti rindu
dikota
jauh
sendirian nunggu hati
jarang kembali
sendirian nunggu hati
jarang kembali
ratna
bersinar
kepenjuru hatiku
bagai wajahmu
kepenjuru hatiku
bagai wajahmu
aku
tanpamu
jalan dihutan rindu
harap jumpamu
jalan dihutan rindu
harap jumpamu
satu
persatu
tergeletak dijalan
mati merana
tergeletak dijalan
mati merana
berjudi
dalam
langkah ponggah sang tokoh
metik amarah
langkah ponggah sang tokoh
metik amarah
lari
tak henti
menghindar rasa sepi
berteman angin
menghindar rasa sepi
berteman angin
alunan
lagu
tidak merdu ke kalbu
katanya palsu
tidak merdu ke kalbu
katanya palsu
tontonan
itu
ditatap rasa hampa
hilangnya makna
ditatap rasa hampa
hilangnya makna
semakin
liar
melawan dan berontak
mencumbu angin
melawan dan berontak
mencumbu angin
Lukanya
panjang
berhari hari nangis
direngkuh getir
berhari hari nangis
direngkuh getir
Pelangi
senja
berbalut angin dingin
wajahnya redup
berbalut angin dingin
wajahnya redup
Getir
dan merintih
saat menjejaki tapak
perjalanannya
saat menjejaki tapak
perjalanannya
banyak
menyemai
tunas dan menyirami
supaya tumbuh
tunas dan menyirami
supaya tumbuh
seluruh
hari
semua siang juga
segenap malam
semua siang juga
segenap malam
tercurah
lepas
tertuju pada musim
panen kan tiba
tertuju pada musim
panen kan tiba
dipetik
hasil
dikumpul bakul harap
suara jerih
dikumpul bakul harap
suara jerih
Saat
dihitung
butir buah tenaga
sungguh kecewa
butir buah tenaga
sungguh kecewa
majikan
itu
dengan para mandornya
yang bergembira
dengan para mandornya
yang bergembira
Ijon
bersuka
tertawa dikursi dan
meja dusta
tertawa dikursi dan
meja dusta
Hasil
kerjanya
telah dirampas kasta
politik keji
telah dirampas kasta
politik keji
Ingat
ingat ya
semuanya yang besar
dulunya kecil
semuanya yang besar
dulunya kecil
(dari
Teddy Wibisana/Mak Erot)
Di
malam ini
tiada bisa tidur
entah kenapa
tiada bisa tidur
entah kenapa
tiap saatnya
ingat slalu ke dia
jatuh cintakah
ingat slalu ke dia
jatuh cintakah
yang jelas
risau
seakan tak berhenti
datang mengganggu
seakan tak berhenti
datang mengganggu
Matanya
sayu
diwajahnya yang ayu
tampilan Ratu
diwajahnya yang ayu
tampilan Ratu
Hari
hariku
terlalu kering bila
tanpa ceriamu
terlalu kering bila
tanpa ceriamu
Dengan
dongengmu
dia terbuai lalu
mabuk kasmaran
dia terbuai lalu
mabuk kasmaran
Jangan
kau Catur
nanti kepala pusing
bicara ngawur
nanti kepala pusing
bicara ngawur
Sudahlah
sudah
kamu pergi kesana
jangan kembali
kamu pergi kesana
jangan kembali
Mulutmu
besar
mau membongkar akal
hanya membual
mau membongkar akal
hanya membual
Aku
tak tahu
kamu kasmaran lagi
pergilah kamu
kamu kasmaran lagi
pergilah kamu
Sore
hariku
menanti hujan reda
dan kamu datang
menanti hujan reda
dan kamu datang
Bambu
yang runcing
simpan jangan dipakai
tuk perang nanti
simpan jangan dipakai
tuk perang nanti
Rengek
manjamu
bentuk rayu merajuk
dan itu racun
bentuk rayu merajuk
dan itu racun
Hujan
yang turun
membasahi rambutmu
tidak ke hati
membasahi rambutmu
tidak ke hati
Bambu
yang hitam
untuk Angklung semua
dan juga aku
untuk Angklung semua
dan juga aku
Bambu
yang kuning
dari negeri seberang
selalu subur
dari negeri seberang
selalu subur
Pohon
Bambuku
tak pernah parah luka
karena aku
tak pernah parah luka
karena aku
· ·
Dimusim
hujan
suara pohon Bambu
melirih sendu
suara pohon Bambu
melirih sendu
Serumpun
Bambu
tertiup angin dingin
berisik sunyi
tertiup angin dingin
berisik sunyi
Bambu
bambuku
hijau kuning dan hitam
perhatianku
hijau kuning dan hitam
perhatianku
Aku tak
mau
Bambu bambuku pilu
karena kamu
Bambu bambuku pilu
karena kamu
Bidadari
putih
bersama Angsa putih
hatinya putih
bersama Angsa putih
hatinya putih
Mulut
terlatih
siapa makan siapa
serba bisa
siapa makan siapa
serba bisa
Mulut
terlatih
bersilat lidah dalam
kata kalimat
bersilat lidah dalam
kata kalimat
merangkai
dongeng
bercerita rencana
berhari hari
bercerita rencana
berhari hari
Mulut
terlatih
siapkan santap siang
siapkan santap siang
setiap
hari
Mulut
terlatih
siapkan caci maki
di siang hari
siapkan caci maki
di siang hari
Tangis
pagimu
membasahi selimut
di ranjang dingin
membasahi selimut
di ranjang dingin
Janji
mu besar
bergaya tukang obral
dasar Pembual
bergaya tukang obral
dasar Pembual
Desah
napasku
di saat menatap mu
peluklah daku
di saat menatap mu
peluklah daku
Kerelaanku
ikhlasku kepada mu
dan kepada Mu
ikhlasku kepada mu
dan kepada Mu
Di antar waktu
seluruh perilaku
sampai pada Mu
seluruh perilaku
sampai pada Mu
Acungkan tinju
pada para pembohong
turun semua
pada para pembohong
turun semua
Di hening hati
diri yang tersembunyi
ku harapkan mu
diri yang tersembunyi
ku harapkan mu
L
Sosok tubuh mu
mengguncangkan jantungku
menghias mimpi
mengguncangkan jantungku
menghias mimpi
Sosok tubuh mu
mengguncang jantung aku
menghias mimpi
mengguncang jantung aku
menghias mimpi
Pengabdianku
menjelma cinta kasih
nikahi kamu
menjelma cinta kasih
nikahi kamu
Liar binal mu
bagai cermin kecewa
bengis dan rakus
bagai cermin kecewa
bengis dan rakus
Dikeheningan hati
diri yang tersembunyi
ku harapkan mu
diri yang tersembunyi
ku harapkan mu
Lemparkan Dadu
semua orang menyerbu
dan jadi Babu
semua orang menyerbu
dan jadi Babu
Di kotak itu
semua mata tertuju
lahirkan Hantu
semua mata tertuju
lahirkan Hantu
Merangkai kalimat
bersilat dalam muslihat
semuanya bangsat
bersilat dalam muslihat
semuanya bangsat
Merangkai kalimat
Bersilat dal muslihat
Semuanya Bangsat
Bersilat dal muslihat
Semuanya Bangsat
Semua Meja
para penyembah berhala
di isi kata
para penyembah berhala
di isi kata
No comments:
Post a Comment