Kembali ke...

Thursday, 18 December 2014

Kumpulan Haiku Henda Surwenda Atmadja (1)



Kumpulan Haiku Henda Surwenda Atmadja


· 
cahya mentari
membias keresahan
memucat pasi




perjalananmu
dipenuhi angin syurga
nutupi hati





dengan bersedih
susuri kenangannya
cinta yang hilang




tangis kemarin
memungut rindu lama
sekarang senyum


merenung diri
umur kian berkurang
ingat yang lalu




pergimu lama
melupakan kecewa
namun sadarlah

 · 
di waktu esok
gemuruh kasih terbit
met hari ibu




· 
biarkan kering
luka mu pasti hilang
seiring waktu




tak perlu marah
menyesal juga jangan
biar berlalu




mandi di pagi
basahi tubuh lama
meraba diri

cinta yang gelap
matahari dan bulan
jadi gerhana




dibalik awan
matahari dan bulan
sedang bercinta




bintang mengintip
matahari dan bulan
bercinta alam





malam pun datang
matahari merebah
tiduri bulan





fajar menghilang
seiring datang siang
menjemput sore

meresap kalbu
ucap kata bak bunga
nasehat ibu




tutur yang syahdu
dikala rasa gundah
doanya ibu




sosok periang
liuk tubuh yang indah
punya suami




sekilas nampak
melambai lempar senyum
getir tersimpan




hanya gambarnya
memberikan bayangan
gelap nun jauh




kejar berlomba
antarkan hawa nafsu
angin didapat




lempar harapan
mengikuti kehendak
nyata adanya




berpegang siang
jalan dikehidupan
tak sampai jua




tiduri waktu
mengingat jejak lalu
catatan kelam




wangi melayang
merpati ikut awan
tinggalkan sedih

otak merusak
tampilan badan bandit
beban negara


jenuh menunggu
melati dekap sepi
janji tak tepat




dimalam kelam
hati terkena hujam
kasih berpaling




sastrawan kumpul
hati bosan bersajak
tak mau nulis




pujangga besar
banyak bersabar koar
menolak barbar




pujangga lesu
syairnya tidak didengar
tokohnya tuli



suara parau
penyair tua marah
kalian bohong !




gada dan godam
simpan dibara dendam
pengadilanmu




biang masalah
mereka yang serakah
dipemerintah




dendam tlah tiba
harus diusir dalam
otak dan hati




mengenang kamu
sejuta dusta lintas
dalam benakku




mentari senja
coba lepas ingatan
dia penipu




harus melawan
apabila pribumi
dijajah lagi




kobarkan lagi
semangat perjuangan
tuk anak cucu




perjalananmu
catatan patriotik
sosok pejuang




burung garuda
tidak akan menjadi
seekor nuri

seekor nuri
tidak akan seperti
burung garuda




siang dan malam
pikir uang dan harta
sebuas macan




sosok pengabdi
digempur kasih palsu
jadi bayaran




dipasang tarif
berkejaran setoran
penuh berdagang




lautan ilmu
biasa ngalir benar
sekarang nanar




orang disana
yang kerja dan yang bunyi
boneka juga




tidak gemuruh
bahkan tertidur panjang
lantangnya hilang




berdiri kamu
pada posisi kamu
supaya jelas




berdebat bisu
digedung buku ilmu
pingsan melulu




bongkar hatimu
yang slalu terpenjara
dalam dustanya




lupakan nilai
mengejar tarif harga
materialis




kalimat sayat
tidak bisa diingat
rakyatnya mabuk




banyakan mimpi
pikiran terbang tinggi
tidak membumi




kegenitanmu
tidak mampu merubah
keadaanmu








kalimat sedap
asyik ngalir merapat
tipuan dahsyat







kau yang tak jelas
pergi kesana sini
ikuti angin


kalimat sayap
adu merdu dirakyat
tipuan lalu




saling menyerang
adu kata bicara
kalimat nipu




berlomba dusta
tembok berbintang langit
politik kini




siang yang panas
dikota baru kusut
berhambur peluh




dicafe cafe
dosen dan mahasiswa
berdusta ria
dicafe cafe
mahasiswa diskusi
rakyat kelaparan




cafe dan cafe
memenuhi pikiran
pemuda nongkrong




dosen usaha
mahasiswa dicafe
negara bangkrut




papi dan mami
anak bangga di cafe
terbawa angin

papi dan mami
anak bangga di cafe
nilainya kabur




ditiap tempat
cafe dan kaum muda
sejarah mati




ditiap tempat
cafe dan kaum muda
saling bodohi




ditiap tempat
cafe dan kaum muda
saling memberi
ditiap tempat
cafe dan kaum muda
kadang semarak




ditiap tempat
cafe tak pernah kosong
membuang waktu




kutengok kampus
mahasiswa tertidur
dosen berbisnis




memang kualat
asli tak hebat kuat
semua impor




canda negeri
siapa yang memimpin

mendekap mulut
sendiri tak bicara
biarkan kerja

tenangkan jiwa
kebijakan pro rakyat
berikan jalan
tergulung ombak
wanita itu dilaut
sesali diri
jauh disana
kau tak peduli lagi
biar sepiku
cucur keringat
basahi tubuh lesu
kejamnya kerja
biduk melaut
diatasnya camar terbang
tersapu angin
dilaut lepas
perahu tanpa dayung
diayun ombak
dilaut lepas
perahu tanpa biduk
diayun ombak




lentera kata
berlayar ombak harap
menepi karang
berkali kerja
ingin raih yang baik
nasib tak tentu




lelah gak habis
kejar hidup tiada
kunjung sempurna

sejuta sastra
bertebar di istana
hanya hiasan
kantin sekolah
redup disudut sepi
terganti cafe
berbaur ilmu
berbaur berkreasi
berkompetisi
kaum marjinal
pasif berdiam diri
perlahan mati
bekalnya dusta
gagas berdaya bangsa
rugi negara
merinding ngeri
tanah air digali
mereka beli

mereka sadis
semua babat habis
kita yang bodoh
muslihat apa
dongeng mereka juga
kita hampasnya

pemuda cafe
mahasiswa di cafe
mikirnya cafe
pujangga kere
sastranya tak dipake
sejarah bangke
pusat pikiran
bergedung juta buku
obrolan cafe
siapkan diri
besok turun kejalan
berdemontrasi
kampus sekarang
dihuni putra putri
mami dan papi
belajar baca
dicafe cafe kota
berkawan wifi
suara lantang
tak ada lagi bunyi
beberkan jerit
study kini
tampilkan laptop baru
pameran gaya
siapkan diri
besok kita kejalan
berdemontrasi
tarik kembali
ketika kata putus
terlontar lirih
kamu dimana
ku sedang kelelahan
tolong hampiri
silang sengketa
bibir, lidah, dan kata
mencari makna

dikampus itu
anak mama dan papa
berpesta pora
meminum kopi
dicafe cafe kota
bercanda ria
dikampus itu
mahasiswanya lupa
dunia nyata
gelisah kita
bila jadi pemimpin
bermulut palsu
menaruh harap
pada elit kuasa
esok merdeka
apa dikata...
Like ·  · Share · 3
kaum terdidik
mabuk tertidur lelap
ilmunya terbang
menara gading
dulu banyak disinggung
karena asing
menara gading
sekarang banyak minat
yang jadi mesin
luka menganga
ditubuh para dosen
kampusnya roboh
siswanya lari
kembali jadi anak
mama yang manja
pujangga gila
berpantun, ada uang
korupsi ria
tiada uang
republik bisa jadi
dijual pula




gurunya palsu
sekolah libur terus
muridnya gila




lingkungan rusak
izin bangun semarak
tanahku retak

tidak berani
melawan dan berontak
dijajah lagi




bbm naik
mahasiswa tiarap
rakyat merana




ilmuwan itu
sangat tekuni ilmu
muridnya bisu

sastrawan itu
menjerit sampai langit
"kertasku hilang......!"




dikota baru
semakin banyak gedung
kau jadi babu




dikota lama
sudah terbangun pabrik
kamu mesinnya



kebun kakekmu
kini berdiri gedung
seribu angkuh



tuliskan kata
kita belum merdeka
ladangnya habis



pasundan lesu
tak ada kata maju
tak ada malu


priangan diam
padahal kursi terbang
diambil orang



dalam puisi
penyair tulis sajak,
"tanah dirampas !"



bersenda gurau
ditanah tua sudah
hilang dirampas



imperialis
culas bengis dan sadis
ada di kita




tanah leluhur
banyak insan tergusur
sejarah kabur



kaum pribumi
jalan dipipir kasir
bangsa terusir



bandung yang bingung
tak ada gaung agung
rebah bersarung



jauh tertinggal
langkah menggapai restu
bandung yang bingung



bunyi kepinggir
berbalut pasrah kalah
mengumjpul hitam



priangan lelap
tidur panjang tak bunyi
semua diam

pasundan sendu
banyak ragu melaju
bisu tak maju

pribumi minggir
tersingkir dan terusir
hidupnya nyinyir



kalah bertarung
ditanahnya leluhur
hina menggempur


terusir kalah
tanah leluhur pindah
pribumi musnah



hidup tersudut
bisu dipinggir desa
menyerah kalah


melangkah jauh
berteman kepedihan
tinggalkan pahit



awan berarak
burung hinggap tak terbang
langit menangis



ayah melangkah
bunda tetap dirumah
sejahteralah



digenggam ayah
dituntun bunda jua
hidup dewasa
kamu cerita
penderitaan panjang
kasih tak pulang



disaat hujan
ada tangis merintih
rindu pelukan


kasihnya jauh
tiap hari sendiri
merajut sepi
puisi sunyi
ditulis sendirian
penyair tua
sebuah pantun
dibaca tengah malam
disusul tangis

geus heula ah
isuk teruskeun deui
ayeuna cape
ka majalaya
rek neangan mitoha
manawi aya
dahan kaboa
loba beja saktina
aya di garut
acan kasorang
hayang nganjang ka anjeun
can aya bekel
wanoja sunda
panggeulisna sadunya
ngan sok dudunya
Like ·  · Share · 2
kamana jalan
asa linglung lengkahna
bingung anjeun na
nasib penunggu
bertaut pada waktu
dalam jemputmu
tertutup kabut
diseret angin gunung
hatimu beku

syurganya hilang
lalu dia terlantar
dijalan pilu
mimpi menanti
kamu memenuhi janji
malah onani
dibilang kapal
padahal bantal kumal
dasar pembual
kepastianmu
tak mengubah sikapku
selamat tinggal
bosan berharap
keraguan hatimu
baiknya pergi




seakan lupa
disini ada kata
cinta abadi




dipadang rumput
yang hijau nan elok kau
tiup seruling
malam merebah
mungkin ada mimpimu
pengganti rindu

dikota jauh
sendirian nunggu hati
jarang kembali




ratna bersinar
kepenjuru hatiku
bagai wajahmu




aku tanpamu
jalan dihutan rindu
harap jumpamu




satu persatu
tergeletak dijalan
mati merana

berjudi dalam
langkah ponggah sang tokoh
metik amarah
lari tak henti
menghindar rasa sepi
berteman angin
alunan lagu
tidak merdu ke kalbu
katanya palsu




tontonan itu
ditatap rasa hampa
hilangnya makna
semakin liar
melawan dan berontak
mencumbu angin




Lukanya panjang
berhari hari nangis
direngkuh getir




Pelangi senja
berbalut angin dingin
wajahnya redup

Getir dan merintih
saat menjejaki tapak
perjalanannya

banyak menyemai
tunas dan menyirami
supaya tumbuh

seluruh hari
semua siang juga
segenap malam

tercurah lepas
tertuju pada musim
panen kan tiba

dipetik hasil
dikumpul bakul harap
suara jerih

Saat dihitung
butir buah tenaga
sungguh kecewa

majikan itu
dengan para mandornya
yang bergembira

Ijon bersuka
tertawa dikursi dan
meja dusta

Hasil kerjanya
telah dirampas kasta
politik keji
Ingat ingat ya
semuanya yang besar
dulunya kecil
(dari Teddy Wibisana/Mak Erot)

Di malam ini
tiada bisa tidur
entah kenapa
tiap saatnya
ingat slalu ke dia
jatuh cintakah
yang jelas risau
seakan tak berhenti
datang mengganggu
Matanya sayu
diwajahnya yang ayu
tampilan Ratu
Hari hariku
terlalu kering bila
tanpa ceriamu
Dengan dongengmu
dia terbuai lalu
mabuk kasmaran

Jangan kau Catur
nanti kepala pusing
bicara ngawur

Sudahlah sudah
kamu pergi kesana
jangan kembali

Mulutmu besar
mau membongkar akal
hanya membual
Aku tak tahu
kamu kasmaran lagi
pergilah kamu

Sore hariku
menanti hujan reda
dan kamu datang

Bambu yang runcing
simpan jangan dipakai
tuk perang nanti


Rengek manjamu
bentuk rayu merajuk
dan itu racun

Hujan yang turun
membasahi rambutmu
tidak ke hati

Bambu yang hitam
untuk Angklung semua
dan juga aku

Bambu yang kuning
dari negeri seberang
selalu subur


Pohon Bambuku
tak pernah parah luka
karena aku
·  · 

Dimusim hujan
suara pohon Bambu
melirih sendu

Serumpun Bambu
tertiup angin dingin
berisik sunyi

Bambu bambuku
hijau kuning dan hitam
perhatianku

Aku tak mau
Bambu bambuku pilu
karena kamu
Bidadari putih
bersama Angsa putih
hatinya putih

Mulut terlatih
siapa makan siapa
serba bisa

Mulut terlatih
bersilat lidah dalam
kata kalimat
merangkai dongeng
bercerita rencana
berhari hari

Mulut terlatih
siapkan santap siang
setiap hari

Mulut terlatih
siapkan caci maki
di siang hari

Tangis pagimu
membasahi selimut
di ranjang dingin

Janji mu besar
bergaya tukang obral
dasar Pembual

Desah napasku
di saat menatap mu
peluklah daku




Kerelaanku
ikhlasku kepada mu
dan kepada Mu

Top of Form


Bottom of Form


Di antar waktu
seluruh perilaku
sampai pada Mu

Top of Form


Bottom of Form

Acungkan tinju
pada para pembohong
turun semua

Di hening hati
diri yang tersembunyi
ku harapkan mu


Top of Form
LBottom of Form
Sosok tubuh mu
mengguncangkan jantungku
menghias mimpi
Top of Form

Sosok tubuh mu
mengguncang jantung aku
menghias mimpi
Top of Form
Bottom of Form


Pengabdianku
menjelma cinta kasih
nikahi kamu

Top of Form
Liar binal mu
bagai cermin kecewa
bengis dan rakus
Top of Form
Bottom of Form

Dikeheningan hati
diri yang tersembunyi
ku harapkan mu

Lemparkan Dadu
semua orang menyerbu
dan jadi Babu
Top of Form
Bottom of Form

Di kotak itu
semua mata tertuju
lahirkan Hantu
Top of Form
Bottom of Form
Merangkai kalimat
bersilat dalam muslihat
semuanya bangsat
Top of Form
Bottom of Form
Merangkai kalimat
Bersilat dal muslihat
Semuanya Bangsat
Top of Form
Bottom of Form

Semua Meja
para penyembah berhala
di isi kata


 

No comments:

Post a Comment