TENTANG HAIKUKU
haikuKu merupakan grup bebas-terbuka. Haiku (俳句?) adalah puisi asli dari Jepang, yang merupakan revisi akhir abad ke-19 oleh Masaoka Shiki dari jenis puisi hokku (発句?) yang lebih tua. Namun puisi mikro ini sudah menjadi milik dunia, siapapun berhak menulis haiku atau hokku. Haiku tidak hanya Matsuo Basho (1644–1694), Onitsura (1661–1738), Yosa Buson (1716–1783), Kobayashi Issa (1763–1827), tapi juga James W. Hackett, Jorge Luis Borges, Cid Corman, Allen Ginsberg, Dag Hammarskjöld, Jack Kerouac hingga Octavio Paz. Mari lewat grup ini kita berapresiasi dan berkarya mendalami haiku. HaikuKu menganut model haiku yang berpola 17 sukukata dalam patron 5-7-5, yaitu:5 suku kata pada baris pertama,7 suku kata pada baris kedua, 5 suku kata pada bari ketiga. Untuk kata ulang tetap dihitung penuh, hati-hati = 4 sukukata, kemana-mana = 5 sukukata, penulisan angka dihitung kata ucapannya, 1 dibaca “satu” = 2 sukukata, 10 dibaca “sepuluh” = 3 sukukata. Untuk kata-kata interjeksi tidak diperkenankan, misal “ah”, “ih”, “hi..hi..”, “hu...hu...”, “ha..ha...ha..”, HaikuKu tidak mengenal rima, irama, namun jika memang diperlukan tidak masalah, haikuKu harus memiliki dasar tradisi budaya Indonesia maupun kedaerahn dalam spiritnya, tidak mewajibkan harus ada penanda musim (Kigo) seperti salju, angin, pagi, batu, air, awan, gunung, rumput, namun jika itu diperlukan tidak masalah, penekanan HaikuKu lebih pada perekamam momentum (suasana , situasi, peristiwa), sensasi pikiran, memiliki kata-kata kias, imaji dan metafora, kekuatan diksi, tidak harus membentuk kalimat diantara barisnya dan memiliki rasa bahasa keindonesiaan. HaikuKu membebaskan pada setiap anggota untuk sekreatif mungkin dalam penampilannya dengan menggunakan gambar background (latar) sebagai daya tarik. Tunjukkan “Ini haikuKu mana haikuMu”

Showing posts with label Kumpulan Haiku. Show all posts
Showing posts with label Kumpulan Haiku. Show all posts
Sunday, 28 December 2014
Friday, 19 December 2014
Kumpulan Haiku Sunda Ganjar Kurnia
Banjarnagara
Banjar nyésakeun tineung
Nagara keueung
.
Geus tunggang gunung
Masih ngulinkeun gandrung
Mulang ditundung
Masih ngulinkeun gandrung
Mulang ditundung
.
Di leuwi
kréatif
Pangarang ngojayken idé
Lup lep pucunghul
Pangarang ngojayken idé
Lup lep pucunghul
·
Kebat
jorélat
Ngembat mapay duriat
Keukeuh tibelat
Ngembat mapay duriat
Keukeuh tibelat
Nagara
runtag
Kaurugan sarakah
Ra'yat tahlilan
Kaurugan sarakah
Ra'yat tahlilan
Néangan
enya
Dina éntépan batu
Ngamalir duka
Dina éntépan batu
Ngamalir duka
.
Di gunung
Padang
Cenah mapaykeun wanci
Duka téh teuing
Cenah mapaykeun wanci
Duka téh teuing
Lamun
Andika
Rék ngagunasika
Kuring layanna
Rék ngagunasika
Kuring layanna
.
Nandonkeun
ajén
Lalaki Padjadjaran
Tanjeur jajatén
.Lalaki Padjadjaran
Tanjeur jajatén
Papatong eunteup
Dina régang talimbeng
Aya salira
..
Kapéngpéongan
Ku enyay duriat maya
Leuwih kasiksa
..
Ukur sorangan
Ulin batin kasugan
harepan, biheung
.
Jalu perlaya
Ditilas ku lamunan
Teu walakaya
.
Jajatén Ukur
Getih pangkur ngagedur
Sunda sing punjul
.
Kembang laligar
Di sisimpangan jalan
Umur ngiceupan
.
Layar belewuk
Urang jadi kalangkang
Éra jeung wirang
Kumpulan Haiku Sudiyanto Admipro
Buka wajahmu
Anugrah tiap bentuk
Nah bersyukurlah
#Senryu
Bulan Memerah
Birahi sentuh otak
Masih Puasa
Cumbui bulan
Kejar kunang Kunang
Lelah berdua
Hujan menggigil
Tak reda dari pagi
Ujang Murungkut
Wajahmu cantik
Cerdas dan idealis
Susah jodohmu
Luka tapakku
Mukena putih kotor
Bu aku telat
Malam namamu
kupinta pada karib
Hadiah '.tukmu
Tertiup duka
Itukah tanda salammu
Met jalan sitor
pagi menderu
Burung terusir Stoum
Menyimpan marah
Tuhan menegur
Pocong gugat manusia
Berdelik sumpah
Tangan dibibir
Kamu sangat cantik deh
Lho kok suing sih
Tak seksi lagi
Pipimu ada kriput
Tetap kucinta
HAIKU Tri Kusumawati
di musim dingin
burung-burung migrasi
sakura runtuh
Meracun kata
Pedang fitnah dihunus
Otak membusuk
Mengintip hujan
Bulan terjaring awan
Aku menggigil
Petir Bersahut
Gosipin Dosa Insan
Hujan mendera
Detikmu mistik
Meski terasa angkuh
Aku tertunduk
Buka wajahmu
Anugrah tiap bentuk
Nah bersyukurlah
#Senryu
Bulan Memerah
Birahi sentuh otak
Masih Puasa
Cumbui bulan
Kejar kunang Kunang
Lelah berdua
Hujan menggigil
Tak reda dari pagi
Ujang Murungkut
Tak reda dari pagi
Ujang Murungkut
Wajahmu cantik
Cerdas dan idealis
Susah jodohmu
Cerdas dan idealis
Susah jodohmu
Luka tapakku
Mukena putih kotor
Bu aku telat
Mukena putih kotor
Bu aku telat
Malam namamu
kupinta pada karib
Hadiah '.tukmu
kupinta pada karib
Hadiah '.tukmu
Tertiup duka
Itukah tanda salammu
Met jalan sitor
Itukah tanda salammu
Met jalan sitor
pagi menderu
Burung terusir Stoum
Menyimpan marah
Burung terusir Stoum
Menyimpan marah
Tuhan menegur
Pocong gugat manusia
Berdelik sumpah
Pocong gugat manusia
Berdelik sumpah
Tangan dibibir
Kamu sangat cantik deh
Lho kok suing sih
Kamu sangat cantik deh
Lho kok suing sih
Tak seksi lagi
Pipimu ada kriput
Tetap kucinta
Pipimu ada kriput
Tetap kucinta
HAIKU Tri Kusumawati
di musim dingin
burung-burung migrasi
sakura runtuh
di musim dingin
burung-burung migrasi
sakura runtuh
Meracun kata
Pedang fitnah dihunus
Otak membusuk
Mengintip hujan
Bulan terjaring awan
Aku menggigil
Petir Bersahut
Gosipin Dosa Insan
Hujan mendera
Detikmu mistik
Meski terasa angkuh
Aku tertunduk
Aku berenang
Di airmatamu bu
Rasai duka
Aku berenang
Di airmatamu bu
Rasai duka
MENIKMATI YANG HALAL
Malam tersipu
Menyusuri tubuhmu
Tuhan tersenyum
Keringat basah
Malaikat berjajar
Setan terhalang
MENIKMATI YANG HALAL
Malam tersipu
Menyusuri tubuhmu
Tuhan tersenyum
Keringat basah
Malaikat berjajar
Setan terhalang
Menjejak Bulan
Detik lukai Angka
Memetik hidup
Menjejak Bulan
Detik lukai Angka
Memetik hidup
Detik lukai Angka
Memetik hidup
Melihat langit
Mendung dikepalaku
Jadilah Haiku
Melihat langit
Mendung dikepalaku
Jadilah Haiku
Mendung dikepalaku
Jadilah Haiku
Menjamu jemu
Meramu bentuk bintang
Merangkai wajah
Menjamu jemu
Meramu bentuk bintang
Merangkai wajah
Meramu bentuk bintang
Merangkai wajah
Menjamu jemu
Meramu bentuk bintang
Merangkai Wajah
Menjamu jemu
Meramu bentuk bintang
Merangkai Wajah
Meramu bentuk bintang
Merangkai Wajah
Sepi mencubit
Saat lelah mereda
Ruangku sepi
Sepi mencubit
Saat lelah mereda
Ruangku sepi
Saat lelah mereda
Ruangku sepi
Engkau tebas
Ilalang yang kan Tumbuh
Ia Meradang
Engkau tebas
Ilalang yang kan Tumbuh
Ia Meradang
Ilalang yang kan Tumbuh
Ia Meradang
Kang Yusef Sibuk
Duh Komputer nya lemot
Rambutnya Rontok
Kang Yusef Sibuk
Duh Komputer nya lemot
Rambutnya Rontok
Duh Komputer nya lemot
Rambutnya Rontok
Takut Graphisnya keduluan sama bang Diro Aritonang punya Meycha Cutez diduluin aja sama saya ....Bang Diro aritonang suka Inisiatipnya melebihi bayangannya.......Wakakakakakaakak
Takut Graphisnya keduluan sama bang Diro Aritonang punya Meycha Cutez diduluin aja sama saya ....Bang Diro aritonang suka Inisiatipnya melebihi bayangannya.......Wakakakakakaakak
Pagi berkicau
Oh para burung Haiku
Masih berbelek
Pagi berkicau
Oh para burung Haiku
Masih berbelek
Oh para burung Haiku
Masih berbelek
Bulan yang Putih
Berhambur suka kita
Pecahkan sepi
Bulan yang Putih
Berhambur suka kita
Pecahkan sepi
Berhambur suka kita
Pecahkan sepi
Sang Angin Marah
Daun tak gemerisik
Menghantam gedung
Sang Angin Marah
Daun tak gemerisik
Menghantam gedung
Daun tak gemerisik
Menghantam gedung
Keserakahan
kulenyap dimatanya
KarenaMU
Keserakahan
kulenyap dimatanya
KarenaMU
kulenyap dimatanya
KarenaMU
Bumi memerah
Saat cinta berdarah
Atas namaMU
Bermacam mashab
Buat sujudku rapuh
Tasbihku lepas
Butiran tasbih
Menggelincirkan Rohku
KAMU Meredup
MU didalamKu
Mengajak selami hati
Pada Nurani
Bumi memerah
Saat cinta berdarah
Atas namaMU
Saat cinta berdarah
Atas namaMU
Bermacam mashab
Buat sujudku rapuh
Tasbihku lepas
Buat sujudku rapuh
Tasbihku lepas
Butiran tasbih
Menggelincirkan Rohku
KAMU Meredup
Menggelincirkan Rohku
KAMU Meredup
MU didalamKu
Mengajak selami hati
Pada Nurani
Mengajak selami hati
Pada Nurani
Memanggil kantuk
tak beranjak disunyi
senyapkan kata
Memanggil kantuk
tak beranjak disunyi
senyapkan kata
tak beranjak disunyi
senyapkan kata
Tak hujan kini
malam nelayan riang
menuju bintang
Tak hujan kini
malam nelayan riang
menuju bintang
malam nelayan riang
menuju bintang
Batu menangis
Airmata berdarah
Ibu terluka
Batu menangis
Airmata berdarah
Ibu terluka
Airmata berdarah
Ibu terluka
Haiku Buat Faris El Hakim
Maafkan aku
Salah menabur Pupuk
Moga tak limbung
Haiku Buat Faris El Hakim
Maafkan aku
Salah menabur Pupuk
Moga tak limbung
Salah menabur Pupuk
Moga tak limbung
Mimpi bermimpi
Bangun terbangun hening
Masih disini
Mimpi bermimpi
Bangun terbangun hening
Masih disini
Bangun terbangun hening
Masih disini
Layu matamu
Mengalir airmata
Biar kureguk
Layu matamu
Mengalir airmata
Biar kureguk
Mengalir airmata
Biar kureguk
Duh peuting jumat
Jomblo karunyak Gusti
Puasa Wae
Duh peuting jumat
Jomblo karunyak Gusti
Puasa Wae
Jomblo karunyak Gusti
Puasa Wae
PENYANYI SAWERAN
Kutang Hilang oh
Ada uang belanja
diselip abang
PENYANYI SAWERAN
Kutang Hilang oh
Ada uang belanja
diselip abang
Ada uang belanja
diselip abang
99
Melambai janur
Dua jempol bersatu
Yuk saling jaga
Dua jempol bersatu
Yuk saling jaga
Kutantang Hujan
Meski akhir mengalah
pada KomaMU
Meski akhir mengalah
pada KomaMU
Buat Adinda Luthvianti
Ular betina
Menjilati leherku
Lupa kan Bisa
Menjilati leherku
Lupa kan Bisa
Mencari kunci
tuk membukamu hati
Tak kutemui
tuk membukamu hati
Tak kutemui
.
Sepasang burung
1 ditembak pemburu
1 bunuh diri
1 ditembak pemburu
1 bunuh diri
Bergulir pagi
Hangat memacu asa
Memanah mimpi
Hangat memacu asa
Memanah mimpi
Haikku tuk putra putraku
Bung Tomo
Pekik menggema
Merdeka atau Mati
Gemetar lawan
Merdeka atau Mati
Gemetar lawan
Di tanah suci
Raga istirah panjang
Dimuliakan
Raga istirah panjang
Dimuliakan
Otak berkotak
Panas bakar se kota
Kita terkapar
Panas bakar se kota
Kita terkapar
Meniti cinta
Duka biarlah duka
Jadi mainan
Duka biarlah duka
Jadi mainan
Secangkir kopi
berita penuh darah
pagi kelabu
berita penuh darah
pagi kelabu
Rembulan pucat
Bibir tawarkan nafsu
Nasi anakku
Bibir tawarkan nafsu
Nasi anakku
Dosa terbuka
sajadah saksi bisu
Malam menghujam
sajadah saksi bisu
Malam menghujam
Doa melayang
Nuju arah berdesak
Sampaikah ia ?
Nuju arah berdesak
Sampaikah ia ?
Hujan berduka
Tenggelam Baris rumah
Bau sampahmu
biarlah senyap
menguliti kalimat
hingga bermakna
menguliti kalimat
hingga bermakna
Sapa menyapa
rindu merindu kekal
berjodoh kita ?
rindu merindu kekal
berjodoh kita ?
dekat mendekat
Kulum mengulum satu
Mabuk kepayang
Kulum mengulum satu
Mabuk kepayang
Anak beranak
gugat menggugat tanya
mana ayahku ?
gugat menggugat tanya
mana ayahku ?
Nyandung Padungdung
Jikan Humarurung
ahk teu jadi ahk
Buta membuta
Maki serapah, penat.
benar sendiri
Maki serapah, penat.
benar sendiri
Udara Penat
Curiga hitam pekat
Tumpah memerah
Curiga hitam pekat
Tumpah memerah
Ku butuh sunyi
Biar hati bicara
Tentang DiriMU
Semua Asa
harus bergerak maju
menahan luka
ata berkata: jika tak bermakna diam, katanya
Maknanya tak berjiwa lelah, lirihnya
huruf-huruf jatuh berserakan di lantai tak jadi apa apa
Maknanya tak berjiwa lelah, lirihnya
huruf-huruf jatuh berserakan di lantai tak jadi apa apa
Siapakah itu dibalik sepi
bayang yang menyesali benci
Ahk ternyata aku yang tak berlari
Mari kita berpesta
Juga yang papa
Hingga mereka tertawa
Jika saja bulan dan matahari
Saling sombong, saling dahului
Masihkah kita bisa menepuk dada sendiri
Diudara.....disinyal.....penuh kata kata
Aku diam dalam gejolak, disudut meja
Aku ingin berkata dan kerja
Kembali datang embun
Pagi dingin di jalan
Melaju roda harapan
pagi menderu
Burung terusir Stoum
Menyimpan marah
Subscribe to:
Posts (Atom)
Kumpulan Haiku Aghan S Parmin

malam datanglah
hati sunyi meraja
pintu bukalah
sampit, 12 2014
bintang berkedip
malam bak rahim bunda
mengadam-hawa
sampit, 12 2014
subuh mengembun
pagi tabur cahaya
burung terbanglah
sampit, 12 2014
malam meluruh
gelap menyimpan intan
bumi terengkuh
Sampit, 12 2014
gelembung busa
angin riuh berlalu
tangan kosonglah
sampit, 12 2014
layang melayang
dalam kendali tangan
aku layang kau
sampit, 12 2014
disinar bulan
daun sepuhan perak
hanyutku haiku
sampit, 12 2014
bulan cemerlang
bumi indah cahaya
aku dalam Hai
sampit, 12 2014
sehabis hujan
pohon-pohon menghening
batu tak gigil
sampit, 12 2014
Yuharno Uyuh
HAIKU 1
Menerjang peluh
Meregang tangis zaman
Kelu menahun
HAIKU 2
Tangis sang renta
Langit pekat bergetar
Anak pendosa
HAIKU 3
langit memerah
di pusara istana
gagak menjerit
HAIKU 4merenda mimpi
raih setumpuk toga
mati berdasi
HAIKU 5
tangis sang ibu
di keheningan malam
langit bergetar
HAIKU 6di sudut panggung
kecapiku membisu
gitar berjingkrak
Catatan Lutfi Mardiansyah
HAIKU DAN KETIADAAN PUSAT
Terlepas dari aturan atau pakem-pakem haiku, baik itu haiku klasik maupun haiku modern, dalam tulisan singkat ini saya ingin membicarakan satu hal mengenai haiku, yaitu “ketiadaan pusat”. Yang saya maksudkan adalah, dalam konteks ini, kata “pusat” bersinonim dengan “gagasan utama”. Dengan demikian saya ingin membahas ketiadaan gagasan yang, di dalam haiku, terkesan tidak terlalu penting, bahkan seringkali—secara ekstrim—ditolak. Logikanya, ketika gagasan pada sesuatu ditolak, maka ia menjadi sesuatu yang “tanpa gagasan”.
Sebagaimana jenis-jenis puisi seperti diwan, kasidah, ghazal, seringkali digunakan sebagai wadah ekspresi dari ajaran-ajaran sufisme, haiku seringkali dikaitkan dengan ajaran zen. Banyak penyair yang juga penganut ajaran zen menulis koan-koan mereka dalam bentuk haiku—walupun tidak semua. Karena zen dikenal sebagai filsafat kekosongan atau ketiadaan, atau ekstrimnya anti-filsafat, dalam hal ini haiku menjadi semacam perpanjangan dari ajaran tersebut.
Lalu apa yang ditawarkan haiku jika ia tidak menawarkan sebuah gagasan? Jika kita melihat bahwa dari segi isi puisi terbagi ke dalam dua jenis, yakni puisi-gagasan dan puisi-suasana, bisa jadi “suasana”-lah yang dalam hal ini hendak ditawarkan oleh haiku. Haiku menyediakan wadah bagi sesuatu yang “bukan dipikirkan” melainkan “dinikmati”. Haiku menyediakan wadah bagi fragmen-fragmen yang cenderung bersifat impresif daripada kontemplatif. Potongan suasana yang tiba-tiba, yang terlepas dari sebuah mula dan tidak terselesaikan.
Analogi sederhananya sebagai berikut: “seseorang membuka pintu”. Seperti itulah haiku. Haiku tak mengurusi dari mana orang itu sebelum dia membuka pintu dan akan ke mana dia setelah membuka pintu. Haiku hanya menangkap impresi-impresi semisal bunyi derit pintu ketika dibuka.
Dalam fokus pembahasan tersebut saya ingin mengetengahkan haiku karangan Isbedy Stiawan Z S untuk melihat bagaimana ketiadaan gagasan di dalam haiku. Berikut ini haiku-haiku tersebut:
dan hujan tandang
menyeret lampu padam
malam pun hitam
Pada haiku tersebut, Isbedy melukiskan sebuah potongan suasana yang tersusun dari “hujan”, “lampu”, dan “malam”. Di haiku ini Isbedy hanya menggambarkan bagaimana hujan datang (dan hujan tandang), kemudian hujan tersebut “seolah” membuat lampu-lampu padam (menyeret lampu padam) dan ketiadaan penerangan ini mengakibatkan malam menjadi gelap (malam pun hitam). Sudah. Tapi, apakah selesai sampai di situ? Apakah haiku ini hanya menawarkan potongan kejadian, sebuah puzzle berupa “hujan” yang ber-“tandang”, dan—mungkin—saking lebatnya hujan tersebut hingga ia seperti tirai tebal yang menghalangi pandangan kita dari nyala lampu, seolah-olah “lampu” itu “padam” dan hujan itulah yang membuatnya padam, serta pada gilirannya hal tersebut membuat “malam” menjadi gelap, seluruhnya berwarna “hitam”?
Apakah selesai sampai di sana dan hanya seperti itu saja?
Sebab jika kita melakukan pembacaan hermeneutik terhadap teks haiku tersebut maka hasilnya akan lain. Dengan berpegang pada kemiripan konsep, kita bisa membaca “hujan” sebagai suatu “kesedihan”, lalu “lampu (yang) padam” itu sebagai “hilangnya kegembiraan”, kemudian “malam” yang disandingkan dengan “hitam” itu sebagai “kehidupan” yang disandingkan dengan “derita”. Dengan demikian, jika teks haiku tersebut kita baca secara hermeneutik, bisa jadi salah satu tafsiran yang muncul adalah, bahwa haiku tersebut menggambarkan tentang kesedihan yang datang selalu membuat kegembiraan terhapus dan kita merasa hidup kita penuh derita. Justru di sini muncul sebuah gagasan, setidak-tidaknya gagasan mengenai kesedihan sebagai sesuatu yang melenyapkan kegembiraan, bahwa dua hal tersebut—kesedihan dan kegembiraan—ada dalam kerangka oposisi biner di mana, walaupun saling melengkapi, keberadaan yang satu selalu melenyapkan yang lainnya.
Sebagai penutup tulisan singkat dan sederhana ini, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan yang timbul atas masalah tersebut di atas untuk selanjutnya—mungkin—bisa dijadikan bahan diskusi atau kajian yang lebih menyeluruh: Apakah ketiadaan pusat di dalam haiku itu suatu realitas yang segera terhapus begitu ia berhadapan dengan teori dan metode pengkajian sastra? Ataukah ini adalah sesuatu yang melampaui hal-hal ilmiah dan akademis tersebut? Sesuatu yang sifatnya esoterik?***
Denny Cholid Rachmat Awan
Semoga bermafaat bagi saya pribadi dan saudara2ku, sabahat2ku, sebagai pengetahuan yang perlu juga dikoreksi oleh saudara2ku di grup Haiku oleh :
Kang Kang Soni Farid Maulana, Kang Diro Aritonang, Kang Yesmil Anwar, Kang Yusef Muldiyana, Kang Igun Prabu, Kang Hikmat Gumelar, Bang Arsyad Indradi, Kang Beni Setia, dan kawan-kawan yang tidak saya sebut semua disini, bilamana ada kekurangan2 mohon dimaafkan tulisan saya ini hanya sebagai refresh saja, dan saya bersyukur semoga dengan kehadiran Kang Lutfi Mardiansyah disini sangat penting buat kita di Haiku bukan sekedar busa dan gincu. Sedikit pengetahuan bagi saya tentang "HAKIKAT KRITIK" semoga kawan-kawan bisa menambahkan dan koreksi : Kritik berasal dari bahasa Yunani, yaitu “Krinein” yang artinya memisahkan, merinci. Dari bidikan yang dihadapi dengan kenyataannya orang membuat suatu pemisahan, perincian antara nilai dan yang bukan nilai, yang baik dan yang jelek, namun bukan hanya arti susila saja, perlu landasan-landasan untuk menyoroti dalam arti yang sangat luas terhadap menentukan suatu ukuran nilai, yaitu nilai dalam penafsiran, nilai dengan ilmu, kaidah-kaidah atau norma yang menjadi pedoman secara sistematis. Persoalan kritik mempunyai kedudukan yang sangat penting pada kehidupan sosial manusia, karena kritik adalah sebagaimana orang memberikan penilaian atas nilai. Dalam tata kehidupan demokrasi masyarakat, kritik sangat dibutuhkan untuk menilai tentang kebijaksanaan para pemimpin dan para penguasa secara kritis. Seperti terjadi dalam suatu pemilihan umum, yaitu sebagai contoh pemilihan kepemimpinan melalui partai-partainya. Kritik menyoroti wilayah-wilayah tertentu dari suatu praktek kemanusiaan dalam sosialisasinya. Tanpa kritik belum tentu suatu cita-cita sesuai hasil dengan pencapaian harapannya.
Kritik dilontarkan dengan positif ataupun negatif bagai cambuk seakan-akan menjadi penghambat atau ancaman yang dianggap pengrusakan citra pada para pembuatnya, pada sistem struktural sebuah organisasi atau perseorangan dari sebuah nilai kesucian dan kemurnian hasil karya. Bisa juga kritik menjadi doping atau stimulus untuk mencapai harapan masa depan lebih baik dari yang sudah-sudah. Seorang kritikus sudah tentu harus mengerti hakekat kritik, sifat-sifat kritik dan persyaratan bagaimana melakukan kritik. Kendati demikian bukan tugas yang mudah ketika kritik itu harus diutarakan dan bahwa kritik yang benar adalah suatu nilai dasar untuk kemajuan eksistensi perbuatan kemanusiaan. Menjadi seorang kritikus berkualitas mempunyai disiplin ilmu untuk mempelajari dan memahami bagaimana menyoroti dan melontarkan kritik-kritiknya supaya tepat sasaran terhadap yang dinilainya atas perbuatan-perbuatan yang bisa ditangkap dan tidak bisa ditangkap oleh pancaindera, seperti yang dilakukan seorang filsuf, agamawan dan masyarakat religius secara spirituil berfikir tentang ketuhanan. Bagaimana kita mengkritisi terhadap seorang hakim menvonis perbuatan seorang terdakwa, pemimpin negara mengatur rakyatnya, seorang seniman bagaimana ia menghasikan karya seni yang diciptakannya. Demikian macam-macam kritik diarahkan bukan serta merta seorang kritikus menjadi dewa terkesan lontaran caci-maki, opini, bisikan-bisikan, gunjingan sebagai kutukan yang gerah, akan tetapi menjadikan spirit dan titik terang mendorong lebih maju untuk melahirkan formula-formula baru dan inovasi pada kemajuan bangsa dan negara, serta satu contoh pada karya seni lebih bermutu sekaligus eksistensi para senimannya. Salam Haiku.
TULISAN HIKMAT GUMELAR
DI KUBUR ATAU DI RANJANG?
Ilmu pengetahuan bekerja dengan klasifikasi. Kerja ini
memungkinkan abstraksi. Abstraksi memungkinkan teori dan metodologi. Teori dan metodologi memberi jaminan pasti. Tapi klasifikasi kerap hanya mengambil salah satu identitas realitas dan menjadikannya arca yang diklai sebagai satu-satunya identitas. Identitas-identitas realitas yang lain kerap sengaja ditindas demi kemudahan dan kerapihan melakukan klasifikasi dan abstraksi, menyusun teori dan metodologi.
Maka, ilmu pengetahuan potensial menyesatkan, potensial menghancurkan. Sajarah bahkan sudah banyak membuktikan kebiadabannya. Misalnya, antropologi pernah lama menganggap bahwa bangsa-bangsa di luar Eropa adalah bangsa primitf, tidak beradab, karenanya mesti diadabkan. Ilmu sejarah sendiri
selama berabad-abad menganggap bahwa sejarah adalah rekonstruksi masa silam berdasarkan arsip. Di luar arsip, bukan sumber sejarah. Dan sejarah yang disusun berdasarkan sumber-sumber lisan dianggap bukan sejarah, dianggap sebagai
tahyul. Anggapan ini memungkinkan lahirnya kolonialisme dan neokolonilisme yang hingga hari ini masih terus beroperasi.
Potensi buruk ilmu pengetahuan akan semakin besar jika
melihat kondisi hari ini. Ini hari arus perubahan sebegitu deras. Informasi melebihi gelombang tsunami. Gelombang tsunami menerjang dalam rentang waktu tertentu yang tak berlebih mungkin jika disebut cukup lama. Dan datangnya dari satu arah. Sementara gelombang informasi ini hari meluap dan menyergap di setiap
tarikan napas dan dari berbagai arah. Ini kondisi yang memungkinkan semakin banyak orang seperti ditulis Chairil Anwar dalam “Catatan Th. 1946:
Kita anjing diburu—hanya melihat dari sebagian sandiwara sekarang/Tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau di ranjang
Karena itu, yang disebut data-data sekalipun, yang disebut
fakta-fakta sekalipun, selalu hanya sejumput. Hal ini karena pengumpulannya dilakukan seperti oleh “anjing diburu”. Begitu pula perenungannya, yang karuan bukan di tepian tasik yang tenang, melainkan di tengah arus deras perubahan dan luapan dan sergapan gelombang informasi dari berbagai arah yang tak sudah-sudah. Belum lagi jika mengingat bahwa yang dinamakan “data” dan “fakta” adalah buah kesepakatan segolongan orang. Segolongan orang ini tentu saja bukan malaikat. Mereka tida nirkepentingan. Dan mereka pun selalu berada dalam ruang dan waktu tertentu yang karuan pula memengaruhi caranya memandang. Dengan demikian, jikapun ditemukan kebenaran, makna, dan arti, itu senantiasa parsial, senantiasa sementara. Konsekuensinya memang bukan sama sekali menafikan ilmu pengetahun, bukan anti-ilmu pengetahuan. Tapi jauhkanlah sikap menjadikan ilmu
pengetahuan sebagai berhala. Bukalah selalu mata bahkan ketika tidur. Teliti dengan cermat, jernih, dan rendah hati setiap pijakan, langkah, dan temuan. Dunia ini sedemikian luas dan otak siapa pun hanya sekepalan bayi. Perkara bertambah lagi jika yang ditulis Chairil itu benar bahwa “kita hanya melihat dari sebagian sandiwara sekang. Tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau di ranjang”. Ini karena kita di abad ke-21 ini seperti “Anjing diburu”.
Saya merasa perlu menulis begitu setelah membaca teks yang
diniatkan oleh Lutfi Mardiansyah sebagai kritik sastra. Sebetulnya saya enggan masuk dalam perdebatan yang dimulai oleh ayunan palu hakim dan lalu disusul oleh banyak semburan derau. Saya telah mencoba sebentar meredakan meski semata karena saya merasa Lutfi menyapa saya. Percobaan itu saya lakukan dengan
menyelipkan kutipan utuh “Gunung-Gunung”, puisi Emily Dickinson, dalam dalam komentar saya untuk Teh Meycha. Puisi bagus yang diterjemahkan dengan bagus oleh Gunawan Mohamad itu, hemat saya, relevan untuk hadir di tengah ayunan palu dan semburan-semburan derau. Tapi “Gunung-Gunung” itu rupanya tak didaki.
Padahal, seingat saya, saya pun sudah menulis sedikit kisah mengenai kenapa sampai Emily baru dikenal sebagai penyair brilian di Amerika Serikat, bahkan kemudian dunia, setelah dia mangkat.
Sebenarnya komentar Kang Beni Setia sudah menunjukkan kekurangan mendasar dari teks Lutfi itu. Dengan cukup gamblang Kang Beni mengatakan bahwa teks Lutfi itu dibangun di atas pandangan yang menyamaratakan, gebyah uyah. Semua haiku diandaikan “tidak ada pusat”, yang berarti “tidak ada gagasan”.
Jika saja itu dibaca dengan mata terbuka, cukup sudah. Goyah itu yang mengklaim sebagi teks ilmiah. Namun, seperti “Gunung-Gunung”, itu pun seperti dilewat begitu saja. Maka, mencuatlah tanya, kenapa bisa demikian? Apa yang memungkinkannya?
Saya merasa bebal. Saya gagal menemukan jawab. Saya hanya
semata bisa menduga, jangan-jangan muasal perkaranya dari penjadian pemilahan yang populer di tahun 70-an, yakni soal puisi suasana dan puisi gagasan, sebagai pijakan. Dan pemakaian pemilahan ini sebagai pijakan dibeking oleh pandangan mengenai puisi yang terdiri dari isi dan wadah seperti air dan ember. Menurut Lutfi, isi puisi itu ada dua, yakni gagasan dan suasana. Berdasarkannya, disebutkannya lah bahwa semua haiku adalah berisi suasana. Lalu diperkuat dengan menyebut kebertautan haiku dengan Zen yang punya tradisi koan. Saya merasa tak perlu lompat jauh-jauh ke sejarah perkembangan haiku, terlebih dengan mengaitkannya dengan Zen dan koan. Cukup rasanya dengan kita menyoal perkara puisi yang seperti air dan ember serta isi puisi yang terdiri dari suasana dan gagasan. Apakah iya puisi bisa dijadikan
terpisah antara wadah dan isi? Dan, sebenarnya pertanyaan ini tak perlu diajukan karena andaian yang mendasarinya sudah ilusif, apakah iya isi puisi hanya suasana dan gagasan? Apa yang dimaksud gagasan? Apa yang dimaksud suasana? Apa dalam suasana mustahil ada gagasan? Apa dalam gagasan mustahil
mengahdirkan suasana? Apa pula tak ada lain di luar gagasan dan suasana?
Kecuali itu, Lutfhi pun mengklaim memakai hermenetik untuk
menjalankan penafsiran lapis kedua terhadap karya Mas Isbedy. Sementara dia mengatakan bahwa haiku adalah karya tanpa pusat. Jika mau konsisten, menggunakan hermenit untuk mebaca karya yang konon tanpa pusat itu slangkah baik untuk hati-hati. Pasalnya, sila ingat sejarah hermenetik, juga tokoh-tokohnya. Dari situ terang bahwa hermenetik itu mengandaikan adanya kebenaran utama. Itu yang harus diburu. Saya dengar, pendekatan ilmiah itu wajib menjelaskan istilah-isitilah kunci. Penjelasan itu wajib meniadakan acuan ganda, wajib meniadakan mabiguitas. Kewajiban ini rasanya belum dipenuhi Lutfi. Masih banyak yang sebetulnya perlu dipersoalkan. Namun itu saja rasa-rasanya sudah lebih
dari cukup, apalagi dua baris “Catatan Th. 1946” itu sudah sangat terang mengingatkan kita. Atau biar tak terlewat pula kita petik saja lagi, ya:
Kita anjing diburu—hanya melihat dari sebagian sandiwara sekarang/Tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau di ranjang
Ilmu pengetahuan bekerja dengan klasifikasi. Kerja ini
memungkinkan abstraksi. Abstraksi memungkinkan teori dan metodologi. Teori dan metodologi memberi jaminan pasti. Tapi klasifikasi kerap hanya mengambil salah satu identitas realitas dan menjadikannya arca yang diklai sebagai satu-satunya identitas. Identitas-identitas realitas yang lain kerap sengaja ditindas demi kemudahan dan kerapihan melakukan klasifikasi dan abstraksi, menyusun teori dan metodologi.
Maka, ilmu pengetahuan potensial menyesatkan, potensial menghancurkan. Sajarah bahkan sudah banyak membuktikan kebiadabannya. Misalnya, antropologi pernah lama menganggap bahwa bangsa-bangsa di luar Eropa adalah bangsa primitf, tidak beradab, karenanya mesti diadabkan. Ilmu sejarah sendiri
selama berabad-abad menganggap bahwa sejarah adalah rekonstruksi masa silam berdasarkan arsip. Di luar arsip, bukan sumber sejarah. Dan sejarah yang disusun berdasarkan sumber-sumber lisan dianggap bukan sejarah, dianggap sebagai
tahyul. Anggapan ini memungkinkan lahirnya kolonialisme dan neokolonilisme yang hingga hari ini masih terus beroperasi.
Potensi buruk ilmu pengetahuan akan semakin besar jika
melihat kondisi hari ini. Ini hari arus perubahan sebegitu deras. Informasi melebihi gelombang tsunami. Gelombang tsunami menerjang dalam rentang waktu tertentu yang tak berlebih mungkin jika disebut cukup lama. Dan datangnya dari satu arah. Sementara gelombang informasi ini hari meluap dan menyergap di setiap
tarikan napas dan dari berbagai arah. Ini kondisi yang memungkinkan semakin banyak orang seperti ditulis Chairil Anwar dalam “Catatan Th. 1946:
Kita anjing diburu—hanya melihat dari sebagian sandiwara sekarang/Tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau di ranjang
Karena itu, yang disebut data-data sekalipun, yang disebut
fakta-fakta sekalipun, selalu hanya sejumput. Hal ini karena pengumpulannya dilakukan seperti oleh “anjing diburu”. Begitu pula perenungannya, yang karuan bukan di tepian tasik yang tenang, melainkan di tengah arus deras perubahan dan luapan dan sergapan gelombang informasi dari berbagai arah yang tak sudah-sudah. Belum lagi jika mengingat bahwa yang dinamakan “data” dan “fakta” adalah buah kesepakatan segolongan orang. Segolongan orang ini tentu saja bukan malaikat. Mereka tida nirkepentingan. Dan mereka pun selalu berada dalam ruang dan waktu tertentu yang karuan pula memengaruhi caranya memandang. Dengan demikian, jikapun ditemukan kebenaran, makna, dan arti, itu senantiasa parsial, senantiasa sementara. Konsekuensinya memang bukan sama sekali menafikan ilmu pengetahun, bukan anti-ilmu pengetahuan. Tapi jauhkanlah sikap menjadikan ilmu
pengetahuan sebagai berhala. Bukalah selalu mata bahkan ketika tidur. Teliti dengan cermat, jernih, dan rendah hati setiap pijakan, langkah, dan temuan. Dunia ini sedemikian luas dan otak siapa pun hanya sekepalan bayi. Perkara bertambah lagi jika yang ditulis Chairil itu benar bahwa “kita hanya melihat dari sebagian sandiwara sekang. Tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau di ranjang”. Ini karena kita di abad ke-21 ini seperti “Anjing diburu”.
Saya merasa perlu menulis begitu setelah membaca teks yang
diniatkan oleh Lutfi Mardiansyah sebagai kritik sastra. Sebetulnya saya enggan masuk dalam perdebatan yang dimulai oleh ayunan palu hakim dan lalu disusul oleh banyak semburan derau. Saya telah mencoba sebentar meredakan meski semata karena saya merasa Lutfi menyapa saya. Percobaan itu saya lakukan dengan
menyelipkan kutipan utuh “Gunung-Gunung”, puisi Emily Dickinson, dalam dalam komentar saya untuk Teh Meycha. Puisi bagus yang diterjemahkan dengan bagus oleh Gunawan Mohamad itu, hemat saya, relevan untuk hadir di tengah ayunan palu dan semburan-semburan derau. Tapi “Gunung-Gunung” itu rupanya tak didaki.
Padahal, seingat saya, saya pun sudah menulis sedikit kisah mengenai kenapa sampai Emily baru dikenal sebagai penyair brilian di Amerika Serikat, bahkan kemudian dunia, setelah dia mangkat.
Sebenarnya komentar Kang Beni Setia sudah menunjukkan kekurangan mendasar dari teks Lutfi itu. Dengan cukup gamblang Kang Beni mengatakan bahwa teks Lutfi itu dibangun di atas pandangan yang menyamaratakan, gebyah uyah. Semua haiku diandaikan “tidak ada pusat”, yang berarti “tidak ada gagasan”.
Jika saja itu dibaca dengan mata terbuka, cukup sudah. Goyah itu yang mengklaim sebagi teks ilmiah. Namun, seperti “Gunung-Gunung”, itu pun seperti dilewat begitu saja. Maka, mencuatlah tanya, kenapa bisa demikian? Apa yang memungkinkannya?
Saya merasa bebal. Saya gagal menemukan jawab. Saya hanya
semata bisa menduga, jangan-jangan muasal perkaranya dari penjadian pemilahan yang populer di tahun 70-an, yakni soal puisi suasana dan puisi gagasan, sebagai pijakan. Dan pemakaian pemilahan ini sebagai pijakan dibeking oleh pandangan mengenai puisi yang terdiri dari isi dan wadah seperti air dan ember. Menurut Lutfi, isi puisi itu ada dua, yakni gagasan dan suasana. Berdasarkannya, disebutkannya lah bahwa semua haiku adalah berisi suasana. Lalu diperkuat dengan menyebut kebertautan haiku dengan Zen yang punya tradisi koan. Saya merasa tak perlu lompat jauh-jauh ke sejarah perkembangan haiku, terlebih dengan mengaitkannya dengan Zen dan koan. Cukup rasanya dengan kita menyoal perkara puisi yang seperti air dan ember serta isi puisi yang terdiri dari suasana dan gagasan. Apakah iya puisi bisa dijadikan
terpisah antara wadah dan isi? Dan, sebenarnya pertanyaan ini tak perlu diajukan karena andaian yang mendasarinya sudah ilusif, apakah iya isi puisi hanya suasana dan gagasan? Apa yang dimaksud gagasan? Apa yang dimaksud suasana? Apa dalam suasana mustahil ada gagasan? Apa dalam gagasan mustahil
mengahdirkan suasana? Apa pula tak ada lain di luar gagasan dan suasana?
Kecuali itu, Lutfhi pun mengklaim memakai hermenetik untuk
menjalankan penafsiran lapis kedua terhadap karya Mas Isbedy. Sementara dia mengatakan bahwa haiku adalah karya tanpa pusat. Jika mau konsisten, menggunakan hermenit untuk mebaca karya yang konon tanpa pusat itu slangkah baik untuk hati-hati. Pasalnya, sila ingat sejarah hermenetik, juga tokoh-tokohnya. Dari situ terang bahwa hermenetik itu mengandaikan adanya kebenaran utama. Itu yang harus diburu. Saya dengar, pendekatan ilmiah itu wajib menjelaskan istilah-isitilah kunci. Penjelasan itu wajib meniadakan acuan ganda, wajib meniadakan mabiguitas. Kewajiban ini rasanya belum dipenuhi Lutfi. Masih banyak yang sebetulnya perlu dipersoalkan. Namun itu saja rasa-rasanya sudah lebih
dari cukup, apalagi dua baris “Catatan Th. 1946” itu sudah sangat terang mengingatkan kita. Atau biar tak terlewat pula kita petik saja lagi, ya:
Kita anjing diburu—hanya melihat dari sebagian sandiwara sekarang/Tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau di ranjang
SDFK
KIRIMAN DARI SDFK
Mien Ardiwinata Kusdiman

SDFK # Bayang Bayang Sepanjang Badan #
malam kembali hening
seperti malam kemarin
dan kemarinnya lagi
hujanpun terus menderas
dari malam kemarin
dan kemarinnya lagi
menggigil aku kedinginan
walau sudah berselimut tebal
mestinya kamu ada disini..
tapi aku sangat tahu
kau sudah ada disana
dan aku harus tetap disini
semuanya harus seperti ini
kita berpisah sayang..
hingga larut tak jua aku terlelap
aku tidur dikamar kita
dengan sprei putih berenda
dan aroma bunga sedap malam yang kamu suka
dinding kamar cantik kita
bertaburan kenangan silam
ada kamu dan aku dalam pigura waktu
semua bercerita tentang kita
cerita silam sangat indah
ketika bersamamu..
aku sangat bahagia
walau ada air mata
tak semua tangis artinya sakit
tak semua air mata adalah duka
terimakasih buatmu kekasih
yang telah mengisi indahnya hari hariku
sekian lama.. dengan janji dan cinta tulus
dalam meniti dari waktu ke waktu
hingga pelukan terakhir kita
( revisi puisi celoteh hati - resminiardiwinata - januari 2013 )

























