Kembali ke...

Sunday, 28 December 2014

Kumpulan Haiku Erry Anwar di HaikuKu


KEMARIN

Hari yang berat

Menggerus lahir batin

Sampai seminggu

WAKTU

Hujan bergegas, 

Jatuh ke tanah keras, 

Kau turut pulang

KETIKA

Kau kuatirkan aku

Hangat rasa di dada

Mengembun mata

TIDUR di SUNYI

tidur di sunyi

dengan mata terbuka

mimpi kan mati

tidur di sunyi

dengan mata terbuka

mati kan mimpi

tidur di sunyi

dengan mata terbuka

habis lah mimpi

(e.a desember 2014)



(Haiku baru).

DI - 1234

Di ujung tahun
Kita beradu lutut
Bertaut mata

Di ujung kata
Kita tercekat patah
Putus harapan

Di akhir huruf
Gaungnya menyambar ku
Sisakan gamang

Di ujung nafas
Kita menguji nyali
Meretas hidup

(e.a 24-12-14)

IA MARIA M

Kalau pelacur
Pun nyatanya kau kini
Siapa Maryam ?

SEPERTIGA MALAM

Cahaya terang
Yang dikejar Majusi
Cahaya pulang

 

 

(Haiku lawas).

DUSUN JEMBLUNG

Kabut mengambang
Menyeruak derita
Hujan dan longsor

(e.a 13 des 14)

SEAKAN

sepanjang hari 
aku bertemu engkau 
tak peduli cuaca.

(e.a 15 des 14)

HABIS

Menikam waktu
Mengikat ruang batu
Aku tercekik

(e.a 15 Des 14)

SUNGGUH

wanita batu
sulit untuk dicinta
ku tak peduli.

(e.a 17 Des 14)

SESUDAH SUBUH

Puting beliung
Mengoyak cabik rubuh
Puting susumu

(e.a 18 Des 14)



Wednesday, 24 December 2014

Tariq Alfatih

Jejakmu senyap
Instrumental eksotik
Indahlah warna


oh bernyanyilah
sungguh merdu raungmu
wahai egoku 

Akal merintih
Makna tak terperikan
Ah, bertasbihlah

Tuesday, 23 December 2014

Mien Ardiwinata Kusdiman

Kulepas peluk
Selamat jalan cinta
Air mata jatuh

Yetti War

sakit hatiku aku tak pernah minta 
mentang mentang ya

2 hrs · 
kamu berkata
aku berkaca-kaca 

lidahmu lunak

kapan kau datang kutunggu depan rumah 
senyum untukmu

pagi hariku
matahari pagiku
indah hariku

Suara gemerecik air
Bagai senandung rindu 

Mengalun berirama

Ah malam Kelam kelabu 
Hitam kelam

Catatan Lutfi Mardiansyah


HAIKU DAN KETIADAAN PUSAT
Terlepas dari aturan atau pakem-pakem haiku, baik itu haiku klasik maupun haiku modern, dalam tulisan singkat ini saya ingin membicarakan satu hal mengenai haiku, yaitu “ketiadaan pusat”. Yang saya maksudkan adalah, dalam konteks ini, kata “pusat” bersinonim dengan “gagasan utama”. Dengan demikian saya ingin membahas ketiadaan gagasan yang, di dalam haiku, terkesan tidak terlalu penting, bahkan seringkali—secara ekstrim—ditolak. Logikanya, ketika gagasan pada sesuatu ditolak, maka ia menjadi sesuatu yang “tanpa gagasan”.
Sebagaimana jenis-jenis puisi seperti diwan, kasidah, ghazal, seringkali digunakan sebagai wadah ekspresi dari ajaran-ajaran sufisme, haiku seringkali dikaitkan dengan ajaran zen. Banyak penyair yang juga penganut ajaran zen menulis koan-koan mereka dalam bentuk haiku—walupun tidak semua. Karena zen dikenal sebagai filsafat kekosongan atau ketiadaan, atau ekstrimnya anti-filsafat, dalam hal ini haiku menjadi semacam perpanjangan dari ajaran tersebut.
Lalu apa yang ditawarkan haiku jika ia tidak menawarkan sebuah gagasan? Jika kita melihat bahwa dari segi isi puisi terbagi ke dalam dua jenis, yakni puisi-gagasan dan puisi-suasana, bisa jadi “suasana”-lah yang dalam hal ini hendak ditawarkan oleh haiku. Haiku menyediakan wadah bagi sesuatu yang “bukan dipikirkan” melainkan “dinikmati”. Haiku menyediakan wadah bagi fragmen-fragmen yang cenderung bersifat impresif daripada kontemplatif. Potongan suasana yang tiba-tiba, yang terlepas dari sebuah mula dan tidak terselesaikan.
Analogi sederhananya sebagai berikut: “seseorang membuka pintu”. Seperti itulah haiku. Haiku tak mengurusi dari mana orang itu sebelum dia membuka pintu dan akan ke mana dia setelah membuka pintu. Haiku hanya menangkap impresi-impresi semisal bunyi derit pintu ketika dibuka.
Dalam fokus pembahasan tersebut saya ingin mengetengahkan haiku karangan Isbedy Stiawan Z S untuk melihat bagaimana ketiadaan gagasan di dalam haiku. Berikut ini haiku-haiku tersebut:
dan hujan tandang
menyeret lampu padam
malam pun hitam

Pada haiku tersebut, Isbedy melukiskan sebuah potongan suasana yang tersusun dari “hujan”, “lampu”, dan “malam”. Di haiku ini Isbedy hanya menggambarkan bagaimana hujan datang (dan hujan tandang), kemudian hujan tersebut “seolah” membuat lampu-lampu padam (menyeret lampu padam) dan ketiadaan penerangan ini mengakibatkan malam menjadi gelap (malam pun hitam). Sudah. Tapi, apakah selesai sampai di situ? Apakah haiku ini hanya menawarkan potongan kejadian, sebuah puzzle berupa “hujan” yang ber-“tandang”, dan—mungkin—saking lebatnya hujan tersebut hingga ia seperti tirai tebal yang menghalangi pandangan kita dari nyala lampu, seolah-olah “lampu” itu “padam” dan hujan itulah yang membuatnya padam, serta pada gilirannya hal tersebut membuat “malam” menjadi gelap, seluruhnya berwarna “hitam”?
Apakah selesai sampai di sana dan hanya seperti itu saja?
Sebab jika kita melakukan pembacaan hermeneutik terhadap teks haiku tersebut maka hasilnya akan lain. Dengan berpegang pada kemiripan konsep, kita bisa membaca “hujan” sebagai suatu “kesedihan”, lalu “lampu (yang) padam” itu sebagai “hilangnya kegembiraan”, kemudian “malam” yang disandingkan dengan “hitam” itu sebagai “kehidupan” yang disandingkan dengan “derita”. Dengan demikian, jika teks haiku tersebut kita baca secara hermeneutik, bisa jadi salah satu tafsiran yang muncul adalah, bahwa haiku tersebut menggambarkan tentang kesedihan yang datang selalu membuat kegembiraan terhapus dan kita merasa hidup kita penuh derita. Justru di sini muncul sebuah gagasan, setidak-tidaknya gagasan mengenai kesedihan sebagai sesuatu yang melenyapkan kegembiraan, bahwa dua hal tersebut—kesedihan dan kegembiraan—ada dalam kerangka oposisi biner di mana, walaupun saling melengkapi, keberadaan yang satu selalu melenyapkan yang lainnya.
Sebagai penutup tulisan singkat dan sederhana ini, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan yang timbul atas masalah tersebut di atas untuk selanjutnya—mungkin—bisa dijadikan bahan diskusi atau kajian yang lebih menyeluruh: Apakah ketiadaan pusat di dalam haiku itu suatu realitas yang segera terhapus begitu ia berhadapan dengan teori dan metode pengkajian sastra? Ataukah ini adalah sesuatu yang melampaui hal-hal ilmiah dan akademis tersebut? Sesuatu yang sifatnya esoterik?***

Catatan Afrizal Anoda

Hai, Ku!
Oleh Afrizal Anoda
Ketika almarhum Heru Emka mengajak saya untuk ikut meramaikan buku kumpulan puisi bertajuk “Suara-suara yang Terpinggirkan”, saya pun meresponnya dengan menyodorkan lima kelompok puisi berjudul, “Hai, Ku!”. Almarhum pun tertawa. “Mas, ternyata Anda bisa bercanda seperti Basho.”
Pada angin yang lupa bertiup,
pada hujan yang mangkir,
pada cinta yang basah,
Berapa hutangku padaMu?
Mencium wangi rambutmu,
rama-rama terbang bergerombol.
Di kantung cuma ada seribu.
Plak!
Terkurung dalam usia,
ingin menyanyi sekali saja.
Atau menyalak.
!
Apakah itu puisi-puisi Haiku? Bukan, dong! Tetapi kata almarhum Heru Emka, “Puisi-puisi Mas itu sudah memiliki roh haiku.” Ah, roh hantu barangkali....
Tahun 1975 silam, Sutadji Calzoum Bachri dan Ikranagara memperkenalkan puisi-puisi Haiku kepada saya waktu kami lagi nongkrong di plaza depan Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki. Tardji membacakan puisi haiku berbahasa Spanyol. Dan Ikra membacakan haiku versi Sitor Situmorang. Dan saya pun menyambar secara spontan,
Katakan pada Tuhan
seseorang mencariNya
Amin!
“Alaaah, itu bukan Haiku,” kata Tardji.
“Haiku itu tentang Zen,” Ikra mencoba menjelaskan.
***
Sebetulnya, mudah saja menggubah sebuah puisi haiku. Karena pakemnya sudah jelas; terdiri dari tiga baris, baris pertama lima suku kata, baris kedua tujuh suku kata, dan baris ketiga kembali lima suku kata. Tapi sebuah haiku bukan hanya tulisan. Ia juga melukis dengan kata-kata. Ia menyampaikan pesan yang menusuk ke perasaan, pikiran, pengalaman hidup, dan sikap hidup. Karena itu Haiku lebih merupakan catatan pribadi perjalanan hidup penyairnya setiap hari. Dan... haiku itu adalah Zen!
Zen lahir dari pemikiran seseorang untuk mengajari dirinya sendiri. Untuk mengenal dirinya sendiri. Pengalaman hidup adalah dasar utama bagi yang menekuni falsafah Zen. Dengan begitu, seseorang yang paham pada kehidupan yang dijalaninya, maka akan semakin banyak pula pelajaran yang diserapnya.
Di dalam haiku, terdapat beberapa konsep Zen;
• Satori, pengalaman akan pencerahan,
• Mu shin, membatasi segala bentuk ego,
• Jiyu, bebas merasakan,
• Shokokyaka, melihat sampai pada yang paling dasar sebagai sumber dari kehidupan diri sendiri.
Nah, yang lebih berat lagi jika Zen dikaitkan dengan puisi, sastra, maupun bentuk seni lainnya. Karena ada lima prinsip Zen dalam mengukur kualitas suatu karya seni.
- Wabi, bersentuhan dengan moral manusia dalam menikmati hidup yang tenang dan jauh dari godaan duniawi.
- Sabi, cara untuk menikmati ketenangan dan keindahan sunyi.
- Mono no Aware, bagaimana menghargai keindahan pada alam, kehidupan, bahkan terhadap karya seni, dengan rasa yang penuh haru dan emosional.
- Yugen, prinsip ini untuk menguak keindahan, keanggunan, kemurnian, dan ketenangan terhadap suatu misteri kehidupan ini secara mendalam.
- Makoto, sifat ikhlas ketika bereaksi. Baik secara emosional maupun bersifat spontan.
Zen membuat haiku menjadi indah, dan membuat pembacanya dapat memandang dunia secara luas, melihat lukisan kehidupan, dan merasakan emosi yang dalam pada diri sendiri.
Meski begitu, janganlah pula menulis haiku penuh dengan metofora, bergaya abstrak, dan mencari-cari persamaan dengan benda lain untuk memahami pengalaman yang dirasakan penulisnya. Dan jangan pula menjadikan haiku sebagai puisi olok-olok. Seperti yang ditulis anggota grup berikut ini;
pilihlah aku
palsu uang kembali
siap komandan
Uka ngayas umak Aku sayang kami
ngayas ilakes nakhab Sayang sekali bahkan
itap uak kadit Tapi kau tidak
nangkap koruptor
oleh koruptor baru
profesional
Puisi-puisi haiku bukannya tidak ada yang tidak mengundang tawa, tapi bukan pula dimaksudkan sebagai puisi olok-olok.
Terus, apa dong yang harus dilakukan jika ingin menulis puisi haiku. Oke, pakem 5,7,5 itu anggaplah bagian dari pikiran. Otomatis akan menjadi pola begitu seseorang akan menulis haiku. Tapi bagaimana ketika otak lagi buntu?
Inilah menariknya haiku. Cobalah bangun pagi, lakukan ginko (langkah haiku) di sekitar halaman, kebun, pinggir sungai maupun pinggir laut, untuk mendapatkan ide. Nongkrong di wc termasuk dalam ginko. Ingat, momen mendapatkan ide itu berlangsung sekejap. Nah, tangkaplah dan ungkapkan dalam sebuah kigo (kata-kata yang tepat) guna mewakili suasana pada saat ginko. Pakai kata-kata sederhana saja untuk mengungkapkannya. Setiap musim mewakili perasaan penulisnya.
Panas Jakarta
Mekar hitam Ciliwung
Angin berhenti
Sederhana, kan?
Selamat menikmati haiku.

Catatan Denny Cholid Rachmat Awan

Denny Cholid Rachmat Awan Semoga bermafaat bagi saya pribadi dan saudara2ku, sabahat2ku, sebagai pengetahuan yang perlu juga dikoreksi oleh saudara2ku di grup Haiku oleh :
Kang Kang Soni Farid Maulana, Kang Diro Aritonang, Kang Yesmil Anwar, Kang Yusef Muldiyana, Kang Igun Prabu, Kang Hikmat Gumelar, Bang Arsyad Indradi, Kang Beni Setia, dan kawan-kawan yang tidak saya sebut semua disini, bilamana ada kekurangan2 mohon dimaafkan tulisan saya ini hanya sebagai refresh saja, dan saya bersyukur semoga dengan kehadiran Kang Lutfi Mardiansyah disini sangat penting buat kita di Haiku bukan sekedar busa dan gincu. Sedikit pengetahuan bagi saya tentang "HAKIKAT KRITIK" semoga kawan-kawan bisa menambahkan dan koreksi : Kritik berasal dari bahasa Yunani, yaitu “Krinein” yang artinya memisahkan, merinci. Dari bidikan yang dihadapi dengan kenyataannya orang membuat suatu pemisahan, perincian antara nilai dan yang bukan nilai, yang baik dan yang jelek, namun bukan hanya arti susila saja, perlu landasan-landasan untuk menyoroti dalam arti yang sangat luas terhadap menentukan suatu ukuran nilai, yaitu nilai dalam penafsiran, nilai dengan ilmu, kaidah-kaidah atau norma yang menjadi pedoman secara sistematis. Persoalan kritik mempunyai kedudukan yang sangat penting pada kehidupan sosial manusia, karena kritik adalah sebagaimana orang memberikan penilaian atas nilai. Dalam tata kehidupan demokrasi masyarakat, kritik sangat dibutuhkan untuk menilai tentang kebijaksanaan para pemimpin dan para penguasa secara kritis. Seperti terjadi dalam suatu pemilihan umum, yaitu sebagai contoh pemilihan kepemimpinan melalui partai-partainya. Kritik menyoroti wilayah-wilayah tertentu dari suatu praktek kemanusiaan dalam sosialisasinya. Tanpa kritik belum tentu suatu cita-cita sesuai hasil dengan pencapaian harapannya.
Kritik dilontarkan dengan positif ataupun negatif bagai cambuk seakan-akan menjadi penghambat atau ancaman yang dianggap pengrusakan citra pada para pembuatnya, pada sistem struktural sebuah organisasi atau perseorangan dari sebuah nilai kesucian dan kemurnian hasil karya. Bisa juga kritik menjadi doping atau stimulus untuk mencapai harapan masa depan lebih baik dari yang sudah-sudah. Seorang kritikus sudah tentu harus mengerti hakekat kritik, sifat-sifat kritik dan persyaratan bagaimana melakukan kritik. Kendati demikian bukan tugas yang mudah ketika kritik itu harus diutarakan dan bahwa kritik yang benar adalah suatu nilai dasar untuk kemajuan eksistensi perbuatan kemanusiaan. Menjadi seorang kritikus berkualitas mempunyai disiplin ilmu untuk mempelajari dan memahami bagaimana menyoroti dan melontarkan kritik-kritiknya supaya tepat sasaran terhadap yang dinilainya atas perbuatan-perbuatan yang bisa ditangkap dan tidak bisa ditangkap oleh pancaindera, seperti yang dilakukan seorang filsuf, agamawan dan masyarakat religius secara spirituil berfikir tentang ketuhanan. Bagaimana kita mengkritisi terhadap seorang hakim menvonis perbuatan seorang terdakwa, pemimpin negara mengatur rakyatnya, seorang seniman bagaimana ia menghasikan karya seni yang diciptakannya. Demikian macam-macam kritik diarahkan bukan serta merta seorang kritikus menjadi dewa terkesan lontaran caci-maki, opini, bisikan-bisikan, gunjingan sebagai kutukan yang gerah, akan tetapi menjadikan spirit dan titik terang mendorong lebih maju untuk melahirkan formula-formula baru dan inovasi pada kemajuan bangsa dan negara, serta satu contoh pada karya seni lebih bermutu sekaligus eksistensi para senimannya.

Lutfi Mardiansyah


 


(Ini bukan Haiku tapi puisi pendek)

SABDA ASBAK

Seperti inilah kelak;
tubuhmu mengabu,
ruhmu mengasap.
2013

Monday, 22 December 2014

Sopyan Tsauri‎

 

Srangenge nu meletek
Ngukir siluet
Totonden kahirupan

Gibrigkeun awak
Suku leungeun diajak
Tegal mayakpak

Situ ngagenclang
Runggunuk pasir gunung
Ngembat walungan

Lir nyayagian
Nu bela jeung rumawat
Naon deui kakurang ?

Keur nu sarakah
Kakayon digaradah
Ngahudang caah

Kokom Komariah

Kasih nan tulus
lupakan kepahitan
demi anakmu

Didik Raharjo

 
Di Natal ini
Aku hanya berdoa
Jadikan hening

ARTIKEL IGUN PRABU

Haiku Religi dan Sumber Penyembuhan Diri
1.Sastra Religi
Menangkap Moments Spiritual "sesaat"
David Rosen memberikan catatan kecil pada bukunya The Healing Spirit of Haiku (North Atlantic Books 2004) tentang bagaimana manusia menangkap moment dan mengangkat moment tersebut menjadi sebuah ritus kehidupan yang baru "This is not a book about the history of haiku or how to write them. This is not a self help book in the usual sense, but rather a non-self (beyond the ego) healing volume that ideally helps one to realize that we are alone, yet inter-connected. This book values haiku moments [and] following the Creative. It also underscores the philosophy: "Moments, moments, that is life." David Rosen
bila diartikan mungkin seperti ini bunyinya "Ini bukan buku tentang sejarah haiku atau bagaimana menulis mereka. Ini bukan buku membantu diri sendiri dalam arti biasa, melainkan non-diri (di luar ego) Volume penyembuhan yang idealnya membantu seseorang untuk menyadari bahwa kita sendiri, namun saling terkait. Buku ini memiliki nilai saat haiku [dan] mengikuti Kreatif. Hal ini juga menggarisbawahi filosofi: ". Beberapa saat, saat, yang hidup" David Rosen
Apa yang dilakukan David Rosen di atas dapat dijadikan alternatif bagi khazanah sastra religi kita yang terkungkung dua kecenderungan utama. Pertama, cenderung dibatasi oleh benturan antara agama yang terlalu memandang ke akhirat dengan tuntutan realitas sosial di dunia yang ternyata (semakin)pahit,Kedua, terpaku pada tema sufisme yang cenderung spiritual, di mana Tuhan hadir melalui penghayatan psikologi yang (seakan-akan) bertentangan dengan pengetahuan rasional, sehingga corak karyanya cenderung gelap dan absurd
Dua kecenderungan itu tidak buruk. Namun "bahaya"bila sastra religi kita selalu dan melulu terkungkung olehnya,selain eksplorasinya bersifat permukaan (dangkal).maka Teologi dan mistisismenya(pun) bukan pengalaman batin semata, melainkan juga pengalaman filosofis,lalu keduanya di(lahir)kan untuk berdiri di atas landasan nalar tertentu yang sumbernya bahkan jauh di luar religi.
2.Sastra Religi
Haiku Sebagai Obat"Mujarab"
Spiritualitas David Rosen dalam kumpulan Haiku nya adalah resultan dari dua paradoks di atas. Seorang yang mampu menjadi penyembuh untuk Dirinya Sendiri,maka ia telah mencapai semacam jiwa universal yang ilahi. Kondisi semacam itu oleh David disebut meta-psikosis.atau semacam penyatuan Tuhan dengan Makhluknya (unity of God) dalam konsep filosofi mistisnya ibnu arabi dikenal sebagai wahdatul wujud di kejawen "Manunggaling Kawula Gusti dan dalam teologi Sufistis Sunda menamainya "KawulaGusti" kawula memilik makna Aku dan Gusti berarti Tuhan. namun yang menarik,David dalam buku The Healing Spirit of Haiku nya itu ia menafsir gagasan Spiritual Agama itu dengan tidak melahirkan sebagai gagasan khas teologi khas spiritual yang selalu kita dapatkan dalam khazanah sastra Religi kita,ia cenderung banyak memainkan peran ayat ayat kitab dengan banyak menggantinya sebagai Mantra mantra penyembuh sebagai alat atau Media untuk mencapai tahap penghayatan hidup yang melampaui batas iman daripada agama yang di Imani nya tersebut."This volume is a haibun of the psyche, that is, a journey into spirit and nature. There is prose about periods of melancholy that I've suffered and the healing haiku that resulted." "Laporan ini merupakan haibun dari jiwa, yaitu sebuah perjalanan ke roh dan alam. Ada prosa tentang periode melankolis bahwa saya telah menderita dan haiku adalah penyembuhan yang dihasilkan.
bagi David pengertian Menderita adalah sebuah kesan yang paling mendasar yang mampu dia jadikan sebagai ide dan gagasan untuk menemukan konsepsi penyembuhan, dalam Haiku ia menuliskan
Dawn on a spring sea
Then a glittering
From a thousand jumping fish
dalam agama dan keyakinan yang saya anut konsepsi dan pemaknaan semisal bersyukur,meminta maaf dan memberikan maaf yang disertai rasa ikhlas dan bertafakur (pun) bisa menjadi sebuah Haibun dari jiwa atau dalam bahasa David itu adalah saat saat kita menemukan situasi atau periode Melankolis tinggal apakah kita mampu menuliskannya dalam bentuk Haiku lalu sekuat tenaga mengamalkannya dalam realitas kehidupan,nenek moyang kita sudah menjalaninya ratusan bahkan mungkin ribuan tahun yang lalu meski dalam bentuk yang lain semisal di sunda saya mengenal istilah "Jangjawokan"
3.Teori "Jangjawokan"
bersambung ahh.. tunduh

https://www.facebook.com/groups/haikuku/permalink/927465693939501/

Sunday, 21 December 2014

Karya-Karya Kontes HaikuKu1



:
Ersa Sasmita
#‎KoKu 1
Langit semarak
borjuis pesta mewah
rakyat nelangsa

Ayie Bukhary
#koku 1
baru hitungan
tambah kekurangannya
keriput tampak

Lintang Nilakandi
‪#‎koku1
Karnaval dosa
Malam ujung Desember
Allahu Akbar!

Bambang Hardiwianto
‪#‎koku1
Pesta maksiat
langkah warsa merambat
sekian laknat


Karsih Khotibah
‪#‎koku1
Balada mercon
hempas almanak lalu
bumi berjanggut

Farid Junaidi
‪#‎koku1
Pemancing tambak
Malam tahun barupun
Tinggalkan istri

Sopyan Tsauri
‪#‎Koku 1
Hingar bingarnya
Satu terompet saja
Pecahkan sepi