Kembali ke...

Thursday, 29 January 2015

Embie C Noer





saat kau pagi
dinginmu kau tinggalkan
pada siapa



Ada yang pergi
Tak sempat berpamitan
Abadi teman



malam kelabu
kucing terlelap mimpi
istana tikus



#‎Senryu



Gendut dan kurus
Senam pagi bersama
Ada salaknya



#‎Senryu



Senam pagi gi
Nya ompong pake senyum
Aduh manisnya



#‎Senryu



Sarapan pagi
Lauknya matahari
Mulutnya gosong



Kekasih hujan
Malam dan kepalsuan
Air menangis



Di ubun terik
Bayanganku terinjak
Pantang menyerah



Makin berduri
Ruang gelap berantai
Api mendidih



Cangkir teh tua
Buku harian ayah
Dalam tembakau



Kelopak senja
Suka pun duka pulang
Nina berangkat



tetesan hujan
payung menari nari
hati terpana



Langit langitku
Gelap berlidah lidah
Tuhan dikunyah



Buat kelapa
Pontang panting ke harta
Hati membatu



Fikiran pagi
Cairan perebutan
Ke tanah jua



Di rumah cinta
Daun saling menyapa
Harum orangnya



Sarapan pagi
Surya di jendela
Kota tergesa



Gang gelap sempit
Genangan air hujan
Tak ada nasi



Si batu akik
Dibolak dan dibalik
Hatimu jua



#‎senryu/03



penyair aksi
menulis kumis palsu
di payudara



#‎senryu/02



Jalan berlenggok
Mata jalang melohok
Lobang galian



#‎senryu/01



tong kosong bunyi
otak tahu di puja
apa makannya



segelas biru
percakapan kekasih
memaku waktu



Perahu lepas
Bunga teratai diam
Langit di bawah



liburan burung
di padang kuning jagung
senapan angin



seorang orang
merintih kesepian
di tempat sunyi



Di perempatan
Menunggu keputusan
Sampai selesai



Saat bermimpi
Mata siapa itu
Yang melihatku



Jiwa tersangka
Ragu bertalu-talu
Lipatan harta



pasfoto lama
senyum hilang di album
bukan berpisah



Di lobang jarum
Aku duduk sendiri
Merindu ibu



Rumah sepatu
Tempat kekecewaan
Disembunyikan



Larutan bimbang
Lautan keraguan
Hanyut menjauh



Cinta digoreng
Patut dipertanyakan
Apa bapaknya



Jakarta hujan
Airnya dari langit
Rasanya enjoy



Menara swara
Menggelincirkan bumi
Para pekerja



Se ekor lalat
Di sisa makan malam
Tanpa rembulan



Sepatu sandal
Tinggal lama serumah
Tak saling kenal



ada di bukit
hamparan kesepian
menunggu hujan



Bukan pot bunga
Kepalan tangan batu
Jangan berpaling



Jubah pujangga
Kerongkongan pekerja
Kata binasa



Kepala palu
Roda cerobong asap
Kuburan buruh



Klik bukanlah klak
Kalau klak menjadi klik
Hati merana



 

No comments:

Post a Comment